Jakarta, VIVA – Sorotan terhadap kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan pendakwah Syekh Ahmad Al Misry alias SAM semakin meluas. Bukan hanya proses hukumnya yang menyita perhatian, tetapi juga dampak psikologis yang dialami para korban yang kini mulai terungkap ke publik.
Pelapor utama, Habib Mahdi Alatas, membeberkan bahwa luka yang dialami para korban jauh lebih dalam dari yang terlihat. Mayoritas korban yang merupakan santri laki-laki, termasuk yang masih di bawah umur, disebut mengalami trauma berat hingga kehilangan kepercayaan terhadap figur keagamaan. Scroll untuk tahu informasi selengkapnya, yuk!
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Mahdi menceritakan bagaimana sulitnya membangun kembali kepercayaan para korban. Ia mengaku harus menghadapi penolakan keras saat pertama kali mencoba mendekati mereka.
"Dia bilang, 'Anda Ustaz? Saya nggak respek sama Anda. Udah nggak usah ngebahas masalah apa pun'. Itu kita ngeyakinin bukan satu dua jam, lima jam saya yakinin sampai tengah malam baru dia mau bercerita," kata Mahdi Alatas kepada awak media, mengutip tayangan Youtube Reyben Entertainment, Kamis 23 April 2026.
Kondisi yang lebih mengkhawatirkan bahkan terjadi pada korban lain yang ditemui di Bogor. Reaksi emosional yang ditunjukkan korban menjadi gambaran nyata betapa besar tekanan batin yang dialami.
"Dia histeris ngelihat saya. Bahkan dia bilang, 'Saya tuh sudah nggak percaya sama Ustaz. Bahkan saya tuh sudah berpikir untuk murtad!'" beber pengasuh pondok pesantren tersebut menirukan jeritan sang korban.
Menurut Mahdi, dugaan tindakan asusila itu kerap dilakukan dengan memanfaatkan relasi kuasa dan kepercayaan. Modus seperti “cek fisik” digunakan untuk mendekati korban, yang pada akhirnya berujung pada tindakan yang merusak mental mereka.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kasus ini juga tidak hanya menimpa anak di bawah umur. Mahdi mengungkap adanya korban dewasa yang turut mengalami perlakuan serupa. Salah satunya adalah pria berusia 24 tahun yang awalnya datang untuk meminta restu pernikahan, namun justru mengalami tindakan yang merendahkan dirinya.
Situasi tersebut membuat Mahdi semakin mantap untuk mengawal kasus ini hingga tuntas. Ia menilai para korban membutuhkan perlindungan dan keberanian dari pihak luar untuk menghadapi sosok yang memiliki pengaruh besar.
Halaman Selanjutnya
"Saya tidak kenal sama si korban siapa dan sebagainya, tapi tanggung jawab moral saya sebagai manusia terhadap anak-anak bangsa, saya harus belain. Enggak mungkin si korban yang usianya 15 tahun itu menghadapi orang sehebat dia," kata Mahdi.

1 week ago
3


























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3064552/original/005518800_1583060624-zohre-nemati-6sNQftdA3Zs-unsplash.jpg)