Krisis Energi Global Belum Usai, 10 Persen Pasokan Minyak Dunia Masih Hilang

2 hours ago 1

Kamis, 9 April 2026 - 18:00 WIB

Jakarta, VIVA – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Meski gencatan senjata mulai diberlakukan, proses pemulihan pasokan minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia diperkirakan tidak akan berjalan cepat. 

Dampak serangan terhadap infrastruktur energi membuat distribusi energi dunia tersendat dan berpotensi memicu harga bahan bakar tetap tinggi dalam waktu lama.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi langkah awal yang krusial untuk menghidupkan kembali arus energi global. Namun, langkah ini hanyalah permulaan dari proses panjang yang kompleks. 

Hal ini lantaran serangan yang terjadi selama konflik telah menyasar puluhan kilang, fasilitas penyimpanan, serta ladang minyak dan gas di sedikitnya sembilan negara, mulai dari Iran hingga Uni Emirat Arab. Secara total, lebih dari 10 persen pasokan minyak dunia sempat terhenti.

Seorang eksekutif energi, Martin Houston, menegaskan bahwa pemulihan tidak sesederhana menyalakan kembali sistem. “Ini bukan kasus di mana Anda hanya menekan tombol dan semuanya kembali berjalan,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari The New York Times, Kamis, 9 April 2026.

Meski Iran telah menyepakati jalur aman bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz, aktivitas pelayaran belum sepenuhnya pulih. Ketidakpastian keamanan membuat perusahaan energi masih berhati-hati untuk kembali beroperasi normal. 

Di sisi lain, serangan terhadap fasilitas energi masih terjadi menjelang gencatan senjata, memperparah kerusakan yang belum sepenuhnya terdata. Dalam jangka pendek, perusahaan kemungkinan akan memprioritaskan distribusi cadangan minyak yang tersimpan di tangki penyimpanan. 

Setelah itu, sebagian sumur minyak mungkin dapat kembali beroperasi dalam hitungan hari atau minggu. Namun, pemulihan penuh diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk infrastruktur yang mengalami kerusakan berat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dampak ini juga dirasakan langsung oleh konsumen. Harga bensin di Amerika Serikat sempat melampaui US$4 per galon atau setara Rp68.000, dan diperkirakan tidak akan kembali ke level sebelum perang dalam waktu dekat. 

Meski harga minyak global sempat turun, penggunaan cadangan energi membuat harga tetap cenderung tinggi selama konflik berlangsung. Selain itu, sumur minyak yang ditutup memiliki tantangan teknis tersendiri saat akan diaktifkan kembali. Tekanan bawah tanah bisa berubah, air dapat masuk ke dalam sumur, hingga risiko korosi akibat paparan gas beracun seperti hidrogen sulfida. Kondisi ini membuat proses restart menjadi lebih rumit dan mahal.

Halaman Selanjutnya

Kuwait, salah satu produsen minyak terbesar dunia, sebelumnya optimistis dapat memulihkan sebagian produksi dalam beberapa hari setelah konflik berakhir. Kepala eksekutif Kuwait Petroleum, Sheikh Nawaf Al Sabah, mengatakan, pihaknya dapat mengeluarkan cukup banyak produksi dalam beberapa hari.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |