Jakarta, VIVA – Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memperingatkan dunia tengah menghadapi potensi krisis energi besar akibat gangguan pasokan minyak global sepanjang sejarah. Dalam situasi ini, IEA mengaskan pengendalian pasokan minyak tidak cukup untuk meredam lonjakan harga energi.
IEA menegaskan, upaya menekan permintaan justru menjadi solusi tercepat untuk mengurangi tekanan terhadap konsumen. Salah satu langkah yang disarankan adalah bekerja dari rumah atau work from home (WFH) guna menekan konsumsi bahan bakar, khususnya dari sektor transportasi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
IEA juga mengajak masyarakat untuk mengurangi perjalanan darat dan udara, memperbanyak penggunaan transportasi umum, serta berbagi kendaraan (carpooling). Langkah-langkah ini dinilai efektif mengingat sektor transportasi jalan menyumbang sekitar 45 persen dari total permintaan minyak global.
"Mengatasi permintaan adalah alat penting dan mendesak untuk mengurangi tekanan pada konsumen dengan meningkatkan keterjangkauan dan mendukung keamanan energi," ujar IEA dikutip dari CNBC Internasional pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Ilustrasi minyak mentah.
Photo :
- CNBC Internasional
Krisis energi dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama perang antara Amerika Serikatn (AS) dan Iran yang telah menyebabkan harga minyak naik tajam. Sejak meletusnya perang pada tanggal 28 Februari 2026, harga minyak dunia tercatat naik lebih dari 40 persen sekaligus mencapai level tertinggi sejak tahun 2022.
Gangguan pasokan terutama terjadi akibat penutupan efektif Selat Hormuz, jalur vital yang biasanya dilalui sekitar 20 persen konsumsi minyak global. Kondisi ini membuat pasar energi global bergejolak dan meningkatkan harga produk turunan seperti solar dan bahan bakar jet, yang berdampak langsung pada biaya transportasi dan harga barang.
Sebagai respons, sejumlah negara mulai menggelontorkan cadangan minyak strategis. IEA bahkan telah menyepakati pelepasan 400 juta barel minyak guna meminimalisir dampak gangguan pasokan, meski belum merinci waktu distribusinya ke pasar.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Namun, IEA menilai langkah pengurangan konsumsi tetap menjadi kunci utama. Selain WFH, kebijakan lain seperti pembatasan kecepatan kendaraan, pengurangan penggunaan mobil pribadi, hingga pengalihan penggunaan energi ke sumber yang lebih efisien dianggap membantu menekan permintaan bahan bakar.
Dengan begitu, terjadi pengalihan penggunaan gas minyak cair (LPG) dari sektor transportasi ke kebutuhan fundamental sehari-hari, seperti memasak. Langkah ini juga upaya menjaga harga energi tetap terjangkau lantaran berkurangnya ketergantungan pada LPG.
Halaman Selanjutnya
Di sisi lain, sejumlah negara juga mulai mengeluarkan kebijakan fiskal untuk melindungi konsumen dari lonjakan harga energi. Spanyol dilaporkan berencana memangkas pajak bahan bakar.

6 hours ago
2











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)
