Bogor, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir. Bahkan, kurs rupiah sempat menyentuh kisaran Rp17.500 per dolar AS dan menjadi salah satu level terlemah sepanjang sejarah.
Kondisi tersebut mulai menjadi perhatian pelaku industri otomotif nasional. Sebab, pelemahan rupiah dinilai berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat hingga biaya produksi kendaraan yang masih menggunakan komponen impor.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Head of PR & Government Relations BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan mengatakan industri otomotif sangat bergantung pada kemampuan beli konsumen. Menurutnya, tekanan terhadap daya beli akan berdampak pada seluruh segmen kendaraan.
“Kalau daya beli terpukul, bukan cuma EV, ICE, atau hybrid yang terdampak, tapi seluruh industri otomotif,” ujarnya di Bogor, Jawa Barat, dikutip VIVA Otomotif Rabu 13 Mei 2026.
Meski demikian, Luther menilai kondisi pasar otomotif Indonesia saat ini masih relatif positif. Ia menyebut tren penjualan kendaraan sejauh ini belum menunjukkan penurunan signifikan.
“Kalau melihat penjualan kendaraan sejauh ini trennya masih sedikit positif. Mudah-mudahan tidak terjadi hal-hal di luar ekspektasi,” tuturnya.
Menurut Luther, pelemahan rupiah memang berpotensi memberi tekanan pada industri otomotif karena sebagian komponen kendaraan masih berasal dari impor. Namun, ia menilai kebijakan pemerintah terkait Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN dapat membantu meredam dampak tersebut.
“Dengan regulasi pemerintah yang sangat mengedepankan TKDN dan produksi dalam negeri, seharusnya dampaknya tidak terlalu signifikan dalam waktu dekat,” katanya.
Pelemahan rupiah sendiri dipengaruhi berbagai faktor global, mulai dari ketegangan geopolitik Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, hingga penguatan dolar AS akibat kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Bank Indonesia juga telah melakukan berbagai langkah intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah. BI menyebut fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat dan optimistis nilai tukar rupiah dapat kembali stabil.
Di sisi lain, BYD tetap optimistis terhadap prospek pasar otomotif Indonesia dalam jangka panjang. Salah satu alasannya karena rasio kepemilikan kendaraan di Indonesia masih dinilai cukup rendah dibanding negara lain.
Halaman Selanjutnya
Selain itu, tren kendaraan listrik di Indonesia juga terus meningkat. Berdasarkan data internal BYD, market sharemobil listrik nasional saat ini disebut sudah menembus lebih dari 16 persen.

13 hours ago
2











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364675/original/098242200_1759123308-padel_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5555113/original/019639800_1776143107-Mahasiswa_UI_diduga_lakukan_pelecehan_seksual__2_.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5556554/original/020780300_1776253850-BPJS_Kesehatan.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3301494/original/038090600_1605800346-Tips.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5030100/original/095728600_1732950329-ciri-ciri-urine-penderita-diabetes.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457086/original/001907200_1766985704-mohammad-o-siddiqui-uXIx0Ss3b-c-unsplash.jpg)