Laporan Pembela HAM Tiongkok Ungkap Fakta Mencengangkan soal Pekerja Anak

3 hours ago 1

Kamis, 9 Juli 2026 - 21:00 WIB

Jakarta, VIVA – Laporan terbaru dari Jaringan Pembela Hak Asasi Manusia Tiongkok (CHRD) adalah salah satu dokumen yang memaksa pembaca untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan bertanya pada diri sendiri bagaimana sebuah negara yang mengklaim melindungi anak di bawah umur dapat secara bersamaan menjalankan sistem pendidikan yang memasok anak-anak ke pabrik-pabrik.

Tiongkok telah meratifikasi konvensi internasional, mengesahkan undang-undang, dan mengeluarkan peraturan yang dimaksudkan untuk melindungi anak di bawah umur dari pekerjaan berbahaya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun, laporan CHRD menunjukkan bahwa, dalam praktiknya, perlindungan ini seringkali hanyalah bahasa dekoratif. Di baliknya terdapat sebuah mesin yang memperlakukan anak-anak sebagai tenaga kerja murah dan patuh.

Skala masalah ini saja sudah mencengangkan. Dari sekitar 41 juta siswa sekolah menengah, sekitar 12 juta terdaftar dalam program kejuruan. Program-program ini, secara teori, seharusnya mempersiapkan siswa untuk pekerjaan yang membutuhkan keterampilan.

Namun kenyataannya, laporan tersebut mendokumentasikan bahwa antara tahun 2019 dan 2025, setidaknya sebelas provinsi mengirim siswa kejuruan ke tempat kerja yang berbahaya, seringkali untuk shift 10 hingga 12 jam, termasuk malam hari, dan seringkali di industri yang tidak terkait dengan studi mereka.

Tiga kematian siswa antara tahun 2020 dan 2022 menjadi penanda suram dari sistem yang telah menormalisasi risiko. Salah satunya, seorang remaja berusia 17 tahun bernama Yang, ditugaskan untuk shift yang melelahkan di lantai pabrik dan ditolak perawatan medis yang layak ketika ia jatuh sakit.

Perjanjian magangnya bahkan mencakup klausul yang menyatakan bahwa jika ia melakukan "lompatan dari gedung, melukai diri sendiri, atau bunuh diri," tanggung jawab akan jatuh padanya dan orang tuanya. Sulit untuk membayangkan pengakuan yang lebih jelas bahwa sistem tersebut mengantisipasi bahaya dan hanya berusaha menghindari tanggung jawab.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penyalahgunaan tersebut meluas jauh melampaui program magang. Anak-anak berusia tiga belas tahun ditemukan bekerja di industri manufaktur, hiburan, dan jasa. Pada Juli 2024 saja, pihak berwenang di Dongguan mengeluarkan lima puluh sembilan surat tilang untuk pelanggaran pekerja anak—jumlah yang mencengangkan untuk satu kota dalam satu bulan. 

Namun, angka-angka ini hanya menceritakan sebagian dari keseluruhan cerita. Laporan tersebut mencatat bahwa pemerintah Tiongkok tidak mengungkapkan data komprehensif tentang penegakan hukum pekerja anak, sehingga skala sebenarnya tersembunyi di balik sensor dan ketidaktransparansi birokrasi. 

Halaman Selanjutnya

Para peneliti CHRD, yang bekerja dalam kondisi intimidasi dan penindasan informasi, mengakui kesulitan mendokumentasikan kasus-kasus dalam sistem yang dirancang untuk menyembunyikannya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |