Lulusan Sarjana Banyak yang Menganggur, Jalur Vokasi Kini Jadi Pilihan Gen Z untuk Cari Kerja

2 weeks ago 4

Selasa, 24 Februari 2026 - 16:10 WIB

Jakarta, VIVA – Pergeseran signifikan terjadi dalam sistem pendidikan tinggi di China. Di tengah ketatnya persaingan kerja dan meningkatnya angka pengangguran muda, jalur pendidikan vokasi sarjana kini semakin diminati. 

Jika sebelumnya universitas elite menjadi tujuan utama lulusan berprestasi, kini sebagian siswa justru memilih kampus vokasi demi prospek kerja yang lebih jelas.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Data resmi menunjukkan bahwa pada Desember lalu, sekitar 16,5 persen penduduk usia 16–24 tahun (di luar pelajar) berada dalam kondisi menganggur. Sementara itu, sejumlah sektor justru mengalami kekurangan tenaga terampil seiring dorongan pengembangan manufaktur pintar dan teknologi baru.

Fenomena ini dinilai sebagai bagian dari transformasi kebijakan pendidikan tinggi. Hal itu diungkapkan Gerard Postiglione, profesor yang mengkhususkan diri pada pendidikan China di University of Hong Kong. 

“China sedang berupaya mengintegrasikan, bukan memisahkan, komponen akademik dan vokasi-teknis dalam pendidikan tinggi,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari South China Morning Post, Selasa, 24 Februari 2026.

Ia menambahkan, langkah tersebut diperlukan untuk menyesuaikan diri dengan diversifikasi ekonomi dan percepatan perkembangan teknologi. Ekspansi institusi vokasi berlangsung pesat. Dari hanya 15 kampus dalam fase percontohan pada 2019, jumlahnya kini telah melampaui 100. Sekitar sepertiga berdiri sepanjang 2025, dan pemerintah bahkan mengusulkan delapan institusi baru.

Angkatan pertama lulusan vokasi sarjana mencatat tingkat penyerapan kerja rata-rata 87,1 persen, sekitar 4,5 poin persentase lebih tinggi dibanding rata-rata nasional lulusan sarjana tradisional. Beberapa institusi vokasi kini masuk peringkat atas nasional, termasuk Jinhua University of Vocational Technology dan Chongqing Polytechnic University of Electronic Technology.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Sebagian pihak masih memandang gelar vokasi sebagai kualifikasi tingkat kedua. “Mereka yang menstigma jenis pendidikan pasca-sekolah ini justru merugikan negara,” ungkap Postiglione. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, Scott Rozelle, co-director Stanford Centre on China’s Economy and Institutions, mengingatkan pentingnya keseimbangan kurikulum. “Institusi tidak seharusnya hanya berfokus pada satu keterampilan saja.” “Siapa yang tahu apakah keterampilan itu masih akan ada 10 tahun ke depan?”

Rozelle menekankan bahwa peningkatan kemampuan matematika, sains, komputer, dan bahasa tetap krusial, terutama ketika modal manusia menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi.

Ilustrasi wisuda.

Bos Palantir Sebut Lulusan Vokasi Jadi Rebutan di Era AI saat Tingkat Pengangguran Terus Naik

CEO Palantir Technologies, Alex Karp, mengklaim lulusan vokasi akan lebih cepat dapat kerja di era AI yang berpotensi menggerus banyak pekerjaan berbasis humaniora.

img_title

VIVA.co.id

29 Januari 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |