VIVA – Kebijakan naturalisasi pemain keturunan yang dilakukan PSSI untuk memperkuat Timnas Indonesia menuai sorotan di Eropa. Sejumlah pemain diaspora dilaporkan menghadapi persoalan administratif di kompetisi Belanda, menyusul perubahan status kewarganegaraan mereka menjadi Warga Negara Indonesia (WNI).
Sorotan tersebut muncul setelah pengamat sepak bola Belanda, Tijmen van Wissing, mengkritik keputusan sejumlah pemain yang dinilai kurang mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap karier mereka di Eropa. Ia menyebut langkah tersebut sebagai keputusan “bodoh”.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Saya pikir itu keputusan bodoh dari para pemain dan agen,” ujar Van Wissing sebagaimana dikutip dari Twente Fans, Jumat 3 April 2026.
Bek Timnas Indonesia, Dean James
Photo :
- Instagram/deanjames
Polemik mencuat dari kasus yang melibatkan dua pemain Timnas Indonesia, yakni Dean James dan Nathan Tjoe-A-On. Keduanya terseret persoalan regulasi terkait status pemain non-Uni Eropa di Liga Belanda.
Klub NAC Breda mengajukan protes resmi usai kekalahan 0-6 dari Go Ahead Eagles. Mereka menilai Dean James tidak memenuhi syarat untuk dimainkan, baik sebagai pemain lokal maupun pemain Uni Eropa, setelah status kewarganegaraannya berubah.
Situasi serupa juga terjadi pada Nathan Tjoe-A-On. Klub TOP Oss mengajukan keberatan setelah tim mereka kalah 1-3 dari Willem II, dengan mempermasalahkan status WNI Nathan.
Menurut Van Wissing, permasalahan ini seharusnya dapat diantisipasi sejak awal, mengingat ketatnya regulasi sepak bola di Eropa, khususnya terkait pemain non-Uni Eropa. Ia menilai pemain dan agen perlu memahami konsekuensi administratif sebelum mengambil keputusan besar seperti pergantian kewarganegaraan.
“Mereka seharusnya memikirkannya matang-matang," tegasnya.
Selain aspek administratif, Van Wissing juga menyoroti dampak finansial. Di kasta tertinggi Liga Belanda, Eredivisie, pemain non-Uni Eropa diwajibkan menerima gaji minimum sekitar 608 ribu euro atau setara Rp11,9 miliar. Ketentuan ini dinilai dapat menyulitkan klub dengan anggaran terbatas untuk merekrut pemain.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi peluang bermain para pemain diaspora Indonesia di Eropa. Van Wissing mencontohkan kasus Tim Geypens yang dinilai turut terdampak situasi serupa.
"(Tim) Geypens seharusnya tidak tertipu oleh kampanye Indonesia itu. Memang bagus mereka terbang ke sana, tetapi itu hanya berujung pada kesengsaraan," tandasnya mengakhiri kritik.
Halaman Selanjutnya
Polemik ini menjadi perhatian karena berpotensi berdampak pada karier pemain serta hubungan antara kebijakan naturalisasi dan regulasi kompetisi internasional. Situasi ini juga mendorong pentingnya pemahaman yang lebih mendalam terhadap aturan sepak bola global sebelum mengambil keputusan strategis.

4 weeks ago
16


























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3064552/original/005518800_1583060624-zohre-nemati-6sNQftdA3Zs-unsplash.jpg)