Jakarta, VIVA – Penjualan kendaraan listrik (EV) secara global menunjukkan tren penurunan tajam di awal 2026, yang mengejutkan banyak pelaku industri otomotif.
Meski sebelumnya pasar EV mengalami pertumbuhan kuat beberapa tahun terakhir, data terbaru menunjukkan permintaan EV tidak lagi tumbuh seperti dulu, menimbulkan tantangan baru bagi produsen mobil listrik di seluruh dunia.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menurut laporan dari Carscoops, dikutip VIVA Senin, 16 Maret 2026, penjualan kendaraan listrik global turun sekitar 11 persen pada Februari 2026 dibanding periode yang sama tahun lalu. Total sekitar 1,1 juta unit EV terjual secara global, tetapi angka ini justru lebih rendah dibandingkan penjualan bulan sebelumnya, menunjukkan tren menurun yang signifikan.
Analisis juga menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan EV tidak merata antar wilayah. Di Eropa, penjualan EV masih tumbuh kuat sekitar 21 persen tahun ini berkat insentif pemerintah, sementara di Amerika Utara permintaan justru melemah drastis hingga turun 36 persen. Namun yang paling signifikan adalah penurunan di China, pasar EV terbesar dunia, di mana penjualan turun sekitar 26 persen sejak awal tahun.
Beberapa faktor menyebabkan penurunan penjualan kendaraan listrik global. Salah satunya adalah perubahan kebijakan insentif di berbagai negara, termasuk penyesuaian pajak di China yang memengaruhi daya tarik pembelian EV. Ketika insentif atau subsidi dikurangi, konsumen sering menunda pembelian karena harganya menjadi relatif lebih tinggi.
Selain itu, konsumen juga mulai mempertimbangkan faktor lain seperti jangkauan jarak dan infrastruktur charging, serta fluktuasi harga energi. Dengan pasar EV yang berkembang pesat beberapa tahun terakhir, beberapa pembeli potensial kini menunggu teknologi lebih baru atau harga yang lebih rendah sebelum melakukan pembelian.
Merespons kondisi ini, sejumlah pabrikan mobil dan pemasok baterai mencoba mencari cara lain untuk mengoptimalkan aset mereka.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Alih‑alih hanya memproduksi baterai untuk kendaraan listrik, beberapa perusahaan besar mulai memanfaatkan baterai EV untuk sistem penyimpanan energi skala besar yang bisa terhubung ke jaringan listrik. Ini membantu menyerap kelebihan produksi baterai sekaligus mendukung infrastruktur energi terbarukan.
Contohnya, produsen seperti Volkswagen telah mengoperasikan fasilitas penyimpanan baterai besar di Jerman, memanfaatkan baterai yang awalnya dirancang untuk EV sebagai penyimpanan energi untuk jaringan listrik. Strategi serupa juga diadopsi oleh merek lain seperti Tesla, Inc., General Motors, dan Ford Motor Company untuk memaksimalkan nilai produksi baterai mereka.
Halaman Selanjutnya
Meski saat ini penjualan EV melambat, banyak analis tetap melihat tren jangka panjang yang positif untuk kendaraan listrik. Permintaan kendaraan ramah lingkungan diperkirakan akan tetap meningkat seiring dengan komitmen global terhadap emisi rendah dan kebijakan energi bersih di banyak negara.

4 hours ago
2











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)



