Puasa Jadi Momen Reset Tubuh, Bisa Bantu Cegah Diabetes

3 hours ago 2

Senin, 9 Maret 2026 - 14:25 WIB

Jakarta, VIVA – Bulan Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai waktu untuk meningkatkan kualitas spiritual, tetapi juga menjadi kesempatan bagi tubuh untuk melakukan “reset” melalui pengaturan pola makan yang lebih sehat. 

Periode puasa diyakini dapat memberikan sejumlah manfaat bagi metabolisme tubuh, khususnya jika diimbangi dengan kebiasaan makan yang seimbang saat sahur dan berbuka. Scroll lebih lanjut yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selama berpuasa, tubuh mengalami perubahan pola metabolisme karena adanya jeda waktu makan yang lebih panjang. Kondisi ini membuat tubuh belajar mengatur kembali penggunaan energi secara lebih efisien. 

Jika dijalankan dengan pola makan yang sehat, puasa berpotensi membantu mengurangi risiko berbagai penyakit metabolik, termasuk diabetes melitus yang hingga kini masih menjadi salah satu tantangan kesehatan di Indonesia.

Berdasarkan data International Diabetes Federation melalui IDF Diabetes Atlas 2025, sekitar 11,1 persen atau setara dengan satu dari sembilan populasi dewasa berusia 20 hingga 79 tahun hidup dengan diabetes. Ironisnya, lebih dari empat dari sepuluh orang tidak menyadari bahwa mereka telah mengidap penyakit tersebut.

Sebagian besar kasus diabetes yang terjadi merupakan Diabetes Melitus Tipe 2, yang menyumbang lebih dari 90 persen dari total kasus diabetes. Penyakit kronis ini ditandai dengan tingginya kadar gula darah yang disebabkan oleh resistensi insulin atau karena tubuh tidak mampu memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup.

Kondisi tersebut dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi sosial ekonomi, faktor demografis, lingkungan, hingga faktor genetik. Pada diabetes tipe 2, tubuh mengalami gangguan dalam memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi. Akibatnya, kadar gula darah meningkat dan dapat memicu berbagai komplikasi kesehatan apabila tidak ditangani dengan baik.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Data yang sama juga menunjukkan bahwa sekitar 19,5 juta orang dewasa hidup dengan diabetes tipe 2. Angka tersebut menegaskan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pencegahan penyakit ini, sekaligus memperluas akses terhadap pilihan pengobatan yang lebih inovatif.

Upaya pencegahan diabetes tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, industri kesehatan, serta masyarakat untuk meningkatkan edukasi sekaligus menyediakan akses layanan kesehatan yang memadai. Selain itu, perubahan gaya hidup juga menjadi faktor kunci, mulai dari menerapkan pola makan sehat, rutin beraktivitas fisik, mengelola stres, hingga menjaga kualitas tidur.

Halaman Selanjutnya

Di sisi lain, pengelolaan diabetes juga membutuhkan rencana terapi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien di bawah pengawasan tenaga kesehatan. Pendekatan individual ini dinilai dapat membantu penyandang diabetes dalam mengontrol penyakitnya secara lebih efektif.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |