Jakarta, VIVA – Ramadan belum genap sebulan, namun fenomena klasik mulai terlihat. Saf masjid yang semula penuh hingga ke pelataran kini perlahan merapat ke dalam. Tarawih yang di awal begitu semarak, mulai bolong di sana-sini. Tilawah Al-Qur’an yang sempat rutin setiap hari, perlahan kehilangan ritmenya.
Fenomena ini ternyata bukan hal baru. Dalam ceramahnya, Ustaz Adi Hidayat menyinggung secara khusus fase pertengahan Ramadan sebagai momentum yang sangat menentukan. Menurutnya, justru di 10 hari kedua inilah standar keberhasilan puasa mulai terlihat.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Sesungguhnya 10 hari kedua adalah standar dari keberhasilan 10 hari pertama,” ucap Adi Hidayat dikutip YouTube Adi Hidayat Official.
Ia menjelaskan, tidak ada pembagian baku dalam syariat yang memisahkan Ramadan menjadi fase pertama, kedua, dan ketiga dengan keutamaan yang berbeda secara tekstual. Namun secara fenomena dan isyarat dari Al-Qur’an serta hadis, ada kecenderungan yang bisa dibaca.
Di awal Ramadhan, rahmat Allah terasa begitu luas. Masjid penuh, kajian ramai, semangat ibadah meningkat. Hal itu sejalan dengan hadis Nabi yang diriwayatkan Imam Bukhari tentang dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka, dan dibelenggunya setan ketika Ramadan tiba.
Menurut Ustaz Adi Hidayat, kondisi itu membuat peluang kebaikan terbuka lebar dan kemaksiatan terasa lebih berat untuk dilakukan. Namun ujian sebenarnya muncul ketika memasuki pertengahan Ramadan.
Saf mulai renggang. Motivasi perlahan menurun. Rutinitas dunia kembali menyita perhatian. Di titik inilah, kata dia, kualitas puasa mulai teruji.
Ustaz Adi Hidayat kemudian mengulas ayat 183 Surah Al-Baqarah yang ditutup dengan frasa “la’allakum tattaqun”. Ia menekankan bahwa kata “tattaqun” berbentuk mudhari, yang menunjukkan makna berkelanjutan, bukan sesaat.
Artinya, tujuan puasa bukan hanya semangat di awal, tetapi konsistensi yang terus terjaga bahkan setelah Ramadan berakhir.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Kalau 10 hari kedua justru menurun, berarti ada yang perlu dievaluasi dari 10 hari pertama,” jelasnya.
Ia memberi analogi sederhana. Jika seseorang sudah terbiasa melakukan satu kebiasaan selama 10 hari dan menikmatinya, maka hari berikutnya ia cenderung mempertahankan kebiasaan itu. Begitu pula dengan ibadah. Jika benar-benar dinikmati dan dibangun dengan kesungguhan, maka konsistensi seharusnya terbentuk.
Halaman Selanjutnya
Bukan Gagal, Tapi Momentum Evaluasi

1 week ago
3











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)
