Rupiah Menguat seiring Proyeksi Berlanjutnya Pelonggaran Kebijakan Moneter

2 hours ago 2

Senin, 16 Februari 2026 - 10:40 WIB

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.844 per Jumat, 13 Februari 2026. Posisi rupiah itu melemah 18 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.826 pada perdagangan Kamis, 12 Februari 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara perdagangan di pasar spot pada Senin, 16 Februari 2026 hingga pukul 10.29 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.829 per dolar AS. Posisi itu menguat 7 poin atau 0,04 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.836 per dolar AS.

Ilustrasi mata uang Rupiah.

Photo :

  • pixabay.com/WonderfulBali

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksi akan berada di kisaran 5 persen pada 2026, di tengah perlambahan ekonomi Asia dan global secara umum.

"Secara prinsip, pelonggaran kebijakan moneter berpotensi masih akan berlanjut, seiring tren inflasi global yang mereda, dan sikap bank sentral dunia yang cenderung tetap akomodatif," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Senin, 16 Februari 2026.

Perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh kekhawatiran mengenai keberlanjutan konsumsi swasta serta efektivitas realisasi investasi. Namun dalam jangka menengah, Indonesia dinilai memiliki fundamental yang kuat.

Selain itu, Indonesia memiliki potensi utama dalam indeks potensi ekspor lintas negara dengan mempertimbangkan berbagai faktor. Mulai dari kapasitas manufaktur, ketersediaan tenaga kerja terampil, biaya tenaga kerja, lingkungan bisnis, hingga energi. Hasilnya, Indonesia menempati peringkat lima di bawah Vietnam, sementara nomor 1 di tempati oleh China.

Kemudian, di tengah kebutuhan global yang semakin besar terhadap kapasitas produksi dan pasokan, Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan momentum tersebut, sehingga di tahun mendatang pertumbuhan ekonomi diprediksi akan lebih baik lagi. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.830 - Rp 16.860," ujarnya.

Sebagai informasi, ketidakpastian mengenai pemotongan suku bunga AS di masa mendatang, menjadi beban utama bagi harga logam. Terutama setelah data penggajian menunjukkan beberapa tanda ketahanan di pasar tenaga kerja pada bulan Januari. Dolar AS pulih dari titik terendah mingguan setelah data penggajian non-pertanian pada hari Rabu.

Halaman Selanjutnya

Fokus sekarang sepenuhnya tertuju pada data inflasi indeks harga konsumen AS untuk bulan Januari, yang akan dirilis pada hari Jumat pekan ini untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang ekonomi terbesar di dunia. Kekuatan pasar tenaga kerja dan inflasi adalah dua pertimbangan terbesar Federal Reserve untuk suku bunga.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |