Jakarta, VIVA – Pelemahan nilai tukar yang terus mencetak rekor ditegaskan menjadi sinyal bahwa ekonomi Indonesia tengah menghadapi himpitan ganda. HAl tersebut yaitu tekanan moneter global dan tantangan struktural domestik.
Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Rahma Gafmi menilai, pelemahan rupiah ini membawa sinyal dan makna yang lebih dalam dari sekadar fluktuasi angka yaitu sinyal dominasi higher for much longer yang persisten.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Nilai tukar kini menembus level psikologis baru di kisaran Rp17.700-Rp17.800 per dolar AS. Padahal, suku bunga acuan (BI-Rate) telah dinaikkan 50 basis poin (bps) ke level 5,25 persen demi memperkuat stabilisasi rupiah.
“Pelemahan ini bukan sekadar masalah angka, melainkan sinyal bahwa ekonomi Indonesia sedang berada dalam himpitan ganda yaitu tekanan moneter global yang tak kunjung reda dan tantangan struktural domestik yaitu energi dan fiskal yang mulai diuji oleh pasar,” katanya di Jakarta, Jumat, 29 Mei 2026.
Meskipun Bank Indonesia (BI) sudah mengerek bunga acuan, pasar melihat bahwa selisih (spread) imbal hasil (yield) masih belum cukup kompetitif dibandingkan dengan aset dolar Amerika Serikat (AS).
Penguatan indeks dolar (DXY) ke posisi 99,10 dan kenaikan yield US Treasury menunjukkan bahwa investor masih meyakini suku bunga di AS akan bertahan tinggi jauh lebih lama.
“Rupiah yang tetap melemah menandakan bahwa daya tarik instrumen domestik sedang diuji oleh magnet safe haven yang sangat kuat,” kata Rahma.
Dia menambahkan bahwa sinyal ini juga mengarah pada kondisi pasokan devisa yang mengetat. Beberapa faktor yang patut diwaspadai yaitu kebutuhan dolar untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen yang biasanya mencapai puncak pada kuartal II.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pelemahan yang tajam ini, menurut Rahma, memaknai adanya ketidakseimbangan antara permintaan yang melonjak dengan pasokan devisa yang melambat. Kenaikan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik di Timur Tengah meningkatkan permintaan dolar untuk impor energi, seperti kebutuhan Pertamina, sehingga menambah tekanan terhadap cadangan devisa dan nilai tukar rupiah.
Terbaru, eskalasi konflik AS-Iran, termasuk serangan ke pangkalan militer AS di Kuwait, berpotensi mendorong harga minyak dan memperbesar tekanan terhadap rupiah. Rahma menambahkan, pelemahan rupiah yang dibarengi dengan rontoknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke bawah level 7.000 memberikan sinyal bahwa investor sedang mengambil langkah defensif.
Halaman Selanjutnya
“Makna di balik ini semua adalah pasar mulai menyoroti risiko pelebaran defisit anggaran dan implementasi kebijakan royalti tambang yang dinilai memberatkan emiten besar,” imbuh dia.

6 hours ago
2














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3432220/original/050867700_1618724332-hush-naidoo-yo01Z-9HQAw-unsplash.jpg)

![[Kolom Pakar] Dokter Ray Wagiu Basrowi: Peran Ganda Ibu Pekerja di Indonesia](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/4PDT82S2e8pRy0jVWbBaEYUDJaA=/1200x675/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5508439/original/026909700_1771575367-dokter_dan_peneliti_kedokteran_komunitas__Dr._dr._Ray_Wagiu_Basrowi__MKK__FRSPH_.jpeg)