Sebelum Meninggal, dr Icha Sempat Mengutarakan Keinginan Mengakhiri Hidup

2 weeks ago 11

Minggu, 28 Juni 2026 - 14:00 WIB

VIVA –Keluarga dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr Icha mengungkap bahwa sebelum ditemukan meninggal dunia sang dokter sempat menjalani pemeriksaan di Klinik Utama Jiwa Dewantara Mental Healthcare. Berdasarkan keterangan keluarga, hasil pemeriksaan menyebut dr. Icha mengalami depresi berat tanpa gejala psikotik setelah mengalami guncangan psikologis. 

"Alami depresi berat dan dia pribadi introvert jadi dia cuma komunikasi sama saya, bapak kecil dan pak Victor itu saja. Dia komunikasikan 'saya stress, saya mau mau pulang ke kefa saya jumpa tiga orang ini lagi saya trauma'," kata paman dr. Icha, Fabianus Banase dikutip dari tayangan YouTube, Minggu 28 Juni 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tak hanya itu saja, Fabianus juga menyebut keluarga sudah menjadwalkan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit bhayangkara Kupang Jumat 26 Juni 2026. Namun sebelum pemeriksaan itu dilakukan, dr. Icha ditemukan meninggal dunia.

"Kami sudah berencana membawa dia kontrol lagi ke rumah sakit Bhayangkara. Tapi Tuhan berkehendak lain, anak kami lebih dulu meninggal dunia," kata dia.

Fabian juga sempat menyebut bahwa keponakannya itu mengutarakan ingin mengakhiri hidupnya pasca insiden tersebut.

"Sempat dia ngomong juga biar saya mati saja supaya jangan korban teman-teman yang lain," kata dia lebih lanjut.

Sebagai informasi, kematian dr. Icha diduga dilatarbelakangi oleh tindakan intimidasi  saat dirinya bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT).

Peristiwa bermula pada Sabtu, 13 Juni 2026, ketika seorang pasien anak korban gigitan ular dirujuk ke IGD RS Leona Kefamenanu. Saat itu, dr. Icha bertugas sebagai dokter jaga. Menurut keterangan keluarga, almarhumah telah menangani pasien sesuai standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit serta berkonsultasi dengan dokter spesialis anak.

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, pasien disebut belum direkomendasikan menerima vaksin tertentu. Selain itu, vaksin yang diminta keluarga pasien juga tidak tersedia di rumah sakit.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Keluarga menyebut situasi berubah tegang ketika keluarga pasien tidak menerima penjelasan medis tersebut.

Menurut paman dr. Icha, Victor Manbait, salah seorang anggota keluarga pasien berbicara dengan nada tinggi dan mengaku sebagai anggota DPRD TTU.

Halaman Selanjutnya

Tak lama kemudian, seorang pria lain yang disebut mengaku sebagai anggota DPRD Komisi III TTU, Norbertus Tubani, ikut masuk ke ruang IGD dan menyampaikan protes dengan nada keras.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |