Sejarah Panjang Hotel Sultan, Dulu Jadi Ikonik Jakarta Kini Viral karena Sengketa

3 days ago 3

Kamis, 18 Juni 2026 - 15:55 WIB

Jakarta, VIVA – Nama Hotel Sultan kembali menjadi sorotan publik setelah Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPKGBK) melakukan eksekusi pengosongan kawasan hotel pada Kamis 18 Juni 2026. Langkah tersebut menjadi penutup dari sengketa lahan yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade antara pemerintah dan PT Indobuildco selaku pengelola hotel.

Di balik polemik yang kini ramai diperbincangkan, Hotel Sultan ternyata memiliki sejarah panjang sebagai salah satu hotel paling bergengsi di Indonesia. Bangunan yang berdiri di kawasan strategis Senayan itu lahir dari proyek besar pemerintah pada era Orde Baru sebelum akhirnya menjadi objek sengketa kepemilikan lahan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Awal mula pembangunan hotel ini bermula pada awal 1970-an ketika Jakarta ditunjuk sebagai tuan rumah konferensi pariwisata Asia Pasifik. Saat itu, ibu kota dinilai belum memiliki cukup hotel bertaraf internasional untuk menampung ribuan tamu dari berbagai negara.

Mantan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, kemudian meminta Pertamina membangun hotel berbintang di kawasan Senayan. Permintaan tersebut diajukan karena pada masa itu Pertamina sedang menikmati masa kejayaan akibat lonjakan harga minyak dunia. Selain itu, pembangunan hotel berskala besar masih belum diperbolehkan dilakukan oleh pihak swasta.

Usulan tersebut mendapat persetujuan dari Direktur Utama Pertamina saat itu, Ibnu Sutowo. Proyek pembangunan kemudian dimulai pada 1973 melalui PT Indobuildco, dan hotel resmi beroperasi pada 1976.

Namun, di kemudian hari muncul fakta yang memicu kontroversi. Ali Sadikin mengaku baru mengetahui setelah hotel selesai dibangun bahwa PT Indobuildco ternyata bukan perusahaan milik Pertamina, melainkan perusahaan swasta.
Pada masa awal operasionalnya, hotel tersebut bekerja sama dengan jaringan internasional Hilton Hotels Corporation sehingga dikenal luas sebagai Hotel Hilton Jakarta. 

Dengan lebih dari 1.100 kamar, sembilan ruang banquet, ballroom berkapasitas besar, serta berbagai fasilitas olahraga dan rekreasi, hotel ini menjadi salah satu ikon perhotelan mewah di ibu kota.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Keberadaannya di kawasan Segitiga Emas Jakarta membuat Hotel Hilton kerap menjadi lokasi penyelenggaraan konferensi internasional, pertemuan bisnis, hingga berbagai acara kenegaraan.

Berubah Nama Menjadi Hotel Sultan

Halaman Selanjutnya

Kerja sama dengan Hilton berakhir pada 2006. Sejak saat itu, hotel berganti nama menjadi Hotel Sultan Jakarta. Meski identitasnya berubah, pengelolaan tetap berada di bawah PT Indobuildco yang dimiliki keluarga Ibnu Sutowo dan kemudian diteruskan oleh putranya, Pontjo Sutowo.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |