Jakarta, VIVA – Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono, buka suara soal situasi perdagangan antara Indonesia dengan sejumlah mitra dagang via Selat Hormuz, menyusul ditutupnya jalur tersebut imbas perang Iran vs AS-Israel.
Dia mengakui, meskipun besaran dampak dari penutupan Selat Hormuz terhadap perdagangan Indonesia masih perlu disoroti dan dikaji, namun realisasi nilai perdagangan RI dengan sejumlah negara via Selat Hormuz di 2025 setidaknya dapat dijadikan acuan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Karena untuk melihat potensi dampak jika konflik meningkat, tentunya diperlukan kajian yang lebih lanjut lagi," kata Ateng dalam telekonferensi, Senin, 2 Maret 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono
Dia memaparkan kondisi perdagangan antara Indonesia dengan sejumlah negara seperti Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab (UEA) di sepanjang tahun 2025. Dimana impor non-migas Indonesia dari Iran pada 2025 tercatat sebesar US$8,4 juta dolar AS.
"Dengan komoditas utama yang terdiri dari buah-buahan (HS08) US$5,9 juta, besi dan baja US$0,8 juta, serta mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS84) US$ 0,7 juta," ujarnya.
Selanjutnya, impor non-migas Indonesia dari Oman mencapai US$718,8 juta, dengan komoditas terbesarnya yakni besi dan baja senilai US$590,5 juta, bahan bakar organik (HS29) US$56,7 juta, serta garam, belerang, batu dan semen (HS25) sebesar US$44,2 juta.
Kemudian untuk impor non-migas dari Uni Emirat Arab (UEA) yakni sebesar US$1,4 miliar, dengan komoditas utamanya seperti logam mulia dan perhiasan sebesar US$511,1 juta. Ada pula garam, belerang, batu dan semen sebesar US$43,2 juta, serta aluminium dan barang daripadanya sebesar US$181,6 juta.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sementara dari sisi ekspor, Ateng menyebut bahwa Indonesia juga memiliki nilai perdagangan yang cukup besar dengan negara-negara tersebut. Dimana ekspor non-migas Indonesia ke Iran sebesar US$249,1 juta, dengan komoditas utama berupa buah-buahan (HS08) US$86,4 juta dolar AS, kendaraan dan bagiannya (HS87) US$34,1 juta, serta lemak dan minyak hewan nabati (HS15) US$22 juta dolar AS.
Lalu ekspor non-migas Indonesia ke Oman mencapai US$428,8 juta, yang didominasi oleh lemak dan minyak hewan nabati sebesar US$227,7 juta, kendaraan dan bagiannya sebesar US$64,2 juta, serta bahan mineral (HS27) sebesar US$48,1 juta.
Halaman Selanjutnya
"Kemudian untuk ekspor non-migas Indonesia ke Uni Emirat Arab sebesar US$4 miliar, dengan komoditas utama logam mulia dan perhiasan US$183,6 juta, lemak dan minyak hewan nabati US$510,3 juta, serta kendaraan dan bagiannya sebesar US$363,5 juta," ujarnya.

1 week ago
4











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)
