Jakarta, VIVA – Iran resmi menutup Selat Hormuz pada Sabtu, 28 Februari 2026. Ini merupakan aksi balasan atas serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Penutupan jalur laut yang vital tersebut langsung mengguncang pasar energi global. Bagaimana tidak, Selat Hormuz selama ini menjadi “urat nadi” distribusi minyak dunia.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sekitar 20 persen pasokan minyak global dan 20 persen pengiriman gas alam cair (LNG) melewati jalur sempit yang berada di antara Iran dan Oman itu setiap hari. Ditutupnya selat tersebut, berpotensi membuat jutaan barel minyak per hari terancam tertahan dan gagal mencapai pasar internasional.
Dampak Langsung ke Harga Minyak
Melansir dari The Guardian, Senin, 2 Maret 2026, sebelum eskalasi terbaru, harga minyak dunia berada di kisaran US$67 per barel (setara Rp1.125.600). Pasar sempat memperkirakan konflik terbatas hanya akan menambah sekitar US$10 per barel (setara Rp168.000).
Namun setelah penutupan resmi diumumkan, proyeksi harga melonjak tajam. Harga minyak Brent diperkirakan naik ke US$73 per barel (setara Rp1.226.400), bahkan berpotensi menyentuh US$90 (setara Rp1.512.000). Dalam skenario terburuk jika gangguan berlangsung lama, harga bisa menembus US$100 per barel atau setara Rp1.680.000.
Lonjakan ini, berisiko memicu tekanan inflasi global baru, menaikkan harga bahan bakar, ongkos logistik, hingga harga kebutuhan pokok di berbagai negara.
Mengapa Selat Hormuz Begitu Strategis?
Selat Hormuz memiliki lebar sekitar 33 kilometer di titik tersempitnya, dengan jalur pelayaran efektif hanya sekitar 3 kilometer di masing-masing arah. Posisi geografis ini menjadikannya titik cekik (chokepoint) paling penting dalam perdagangan energi dunia.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Hingga 15 juta barel minyak per hari dapat terdampak jika arus kapal tanker terganggu. Opsi jalur alternatif sangat terbatas, sehingga setiap gangguan di wilayah ini hampir pasti berdampak langsung pada harga energi global.
Sementara itu, Iran sendiri memiliki cadangan minyak terbesar keempat di dunia, sekitar 170 miliar barel atau 9 persen dari total cadangan global. Negara ini juga merupakan produsen terbesar keempat di dalam OPEC dan salah satu eksportir minyak mentah utama dunia.
Halaman Selanjutnya
Selain itu, Iran menyimpan cadangan gas terbesar kedua di dunia, sekitar seperenam cadangan global. Meski selama bertahun-tahun menghadapi sanksi internasional, produksi minyak Iran dalam beberapa bulan terakhir sempat mencapai level tinggi berkat hubungan dagang erat dengan China.

1 week ago
5











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)
