Strategi Hati-hati SMBC Indonesia Berbuah Manis

1 week ago 5

Selasa, 3 Maret 2026 - 20:21 WIB

Jakarta, VIVA — PT Bank SMBC Indonesia Tbk mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025 dengan mengedepankan manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian di seluruh segmen, dari ultramikro hingga korporasi.

Direktur Utama SMBC Indonesia Henoch Munandar menyatakan, capaian tersebut mencerminkan strategi perusahaan yang fokus pada fundamental bisnis dan tata kelola yang baik.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Per 31 Desember 2025, total aset konsolidasi mencapai Rp245,9 triliun, tumbuh 2 persen secara tahunan (yoy). Penyaluran kredit meningkat 3,3 persen yoy menjadi Rp185,4 triliun, didorong pertumbuhan segmen korporasi dan komersial sebesar 6,5 persen yoy serta kredit Jenius di luar Digital Micro yang naik 11,3 persen yoy.

Dari sisi pendanaan, dana murah (CASA) tumbuh 16,7 persen yoy menjadi Rp53,2 triliun dengan rasio CASA naik ke 40,6 persen. Total dana pihak ketiga (DPK) meningkat 8 persen yoy menjadi Rp131 triliun. Struktur pendanaan yang lebih efisien menopang ekspansi kredit sepanjang tahun.

Likuiditas dan permodalan tetap kuat. Liquidity Coverage Ratio (LCR) tercatat 229,4 persen dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) 123 persen, jauh di atas ketentuan minimum. Rasio kecukupan modal (CAR) konsolidasi berada di level 29,3 persen, melampaui rata-rata industri 25,9 persen, memberikan ruang ekspansi lebih lanjut.

Kualitas aset menunjukkan perbaikan, dengan rasio kredit bermasalah (gross NPL) turun menjadi 2,6 persen dari 2,8 persen pada September 2025. Pendapatan operasional konsolidasi tumbuh 5,8 persen yoy menjadi Rp18,4 triliun.

Pendapatan bunga bersih naik 4,6 persen yoy dengan margin bunga bersih (NIM) terjaga di level 7,0 persen di tengah kompetisi suku bunga dan kenaikan biaya dana. Bank memperkuat pencadangan kerugian penurunan nilai (CKPN), terutama di Grup OTO, sebagai langkah antisipatif menghadapi dinamika ekonomi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Laba bersih konsolidasi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp506 miliar pada 2025. Secara entitas bank, laba bersih setelah pajak mencapai Rp1,5 triliun. Sementara itu, BTPN Syariah membukukan laba bersih Rp1.201 miliar, tumbuh 13,2 persen yoy, dengan pembiayaan Rp10,3 triliun atau naik 2 persen yoy.

"Di luar kinerja keuangan, program Daya telah menjangkau hampir 37 juta partisipan melalui lebih dari 12 ribu kegiatan pemberdayaan hingga akhir tahun lalu," kata Henoch, Selasa, 3 Maret 2026.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae.

Dana Kredit Rp 2.506 Triliun 'Nganggur' di Bank, OJK Beberkan Fenomena di Baliknya

Dian OJK menilai, fenomena 'undisbursed loan' atau dana kredit menganggur yang banyak tercatat di bank-bank swasta merupakan hal yang lazim dalam siklus bisnis perbankan.

img_title

VIVA.co.id

26 Februari 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |