Jakarta, VIVA – Badan Pangan Nasional alias Bapanas melalui Direktur Pengendalian Kerawanan Pangan, Dr. Tri Nuryanti mengatakan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejatinya hadir sebagai penekan angka stunting, sekaligus jembatan untuk mengatasi kerentanan ekonomi keluarga.
Dia mengungkapkan, saat ini masih ada 81 kabupaten/kota yang rentan rawan pangan. Di wilayah-wilayah tersebut, keluarga prasejahtera kerap harus mengalokasikan minimal 65 persen dari total pendapatan mereka hanya untuk belanja pangan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Ketika ada jembatan keterjangkauan bernama MBG, beban pengeluaran pangan orang tua otomatis berkurang secara drastis," kata Tri dalam keterangannya, Jumat, 29 Mei 2026.
Ilustrasi stunting
Photo :
- Direktorat P2PTM Kemenkes
Menurutnya, MBG sangat efektif untuk menangani kerawanan pangan, sekaligus menaikkan taraf ekonomi keluarga. Karena sisa pendapatan mereka kini bisa dialihkan untuk kebutuhan pendidikan atau kesehatan lainnya.
Dengan kata lain, MBG membantu memperbaiki struktur ekonomi keluarga prasejahtera, yang selama ini terjebak dalam lingkaran kemiskinan akibat tingginya beban pemenuhan kebutuhan dasar. Dimana hal tersebut kerap berdampak pada timbulnya masalah kesehatan dan kualitas hidup mereka selama ini.
"Program MBG terbukti membawa dampak masif bagi jutaan anak Indonesia. Tak sekadar jadi solusi pemenuhan gizi di sekolah, program ini juga dirancang untuk mengurai permasalahan struktural ekonomi keluarga rentan yang berimbas pada permasalahan stunting," ujarnya.
Senada, Ahli Gizi IPB sekaligus Dewan Pengurus Pusat Himpunan Alumni IPB Departemen Gizi, Lesda Lybaws, mengaku sepakat bahwa MBG adalah wujud nyata investasi jangka panjang negara, yang langsung menyentuh akar permasalahan di masyarakat.
"Masalah stunting di Indonesia layaknya fenomena gunung es yang memiliki akar multidimensional mulai dari, asupan makan, ekonomi (keluarga), hingga buruknya sanitasi yang memicu infeksi berulang pada anak,” kata Lesda.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menurutnya, MBG secara komprehensif memotong rantai permasalahan yang berlarut-larut tersebut. Terlebih saat ini, program MBG tidak hanya menyasar anak usia sekolah, namun juga telah mencakup sasaran 3B.
"Yakni, Balita, Ibu Menyusui (Busui), dan Ibu Hamil (Bumil) guna menyasar periode emas 1.000 Hari Pertama Kehidupan," ujarnya.
Tembus Rp 26 Triliun, Indef Sebut Omzet Kurban di Idul Adha 2026 Jadi Penggerak Ekonomi
Esther memproyeksi, omzet transaksi hewan kurban di Idul Adha 2026 bisa mencapai angka Rp 26 triliun dan memberikan dampak besar ke industri peternakan & ekonomi nasional
VIVA.co.id
29 Mei 2026

3 hours ago
1














:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3432220/original/050867700_1618724332-hush-naidoo-yo01Z-9HQAw-unsplash.jpg)

![[Kolom Pakar] Dokter Ray Wagiu Basrowi: Peran Ganda Ibu Pekerja di Indonesia](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/4PDT82S2e8pRy0jVWbBaEYUDJaA=/1200x675/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5508439/original/026909700_1771575367-dokter_dan_peneliti_kedokteran_komunitas__Dr._dr._Ray_Wagiu_Basrowi__MKK__FRSPH_.jpeg)