Trump dan Xi Jinping Sepakat Soal Selat Hormuz: Jalur Minyak Dunia Tak Boleh Ditutup Iran

3 hours ago 1

Kamis, 14 Mei 2026 - 18:15 WIB

VIVA – Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing mulai memunculkan sinyal baru soal ketegangan global, khususnya terkait ancaman terhadap Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia.

Gedung Putih menyebut hari pertama pembicaraan kedua pemimpin berlangsung positif. Namun di balik pembahasan hubungan dagang dan kerja sama ekonomi, isu Iran justru menjadi salah satu topik paling sensitif yang dibicarakan secara serius.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Washington dan Beijing memiliki pandangan yang sama soal pentingnya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka demi stabilitas pasokan energi dunia.

“Kedua pihak sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk mendukung arus energi yang bebas,” kata pejabat Gedung Putih, Kamis 14 Mei 2026 dikutip dari CNN International.

Presiden AS Donald Trump bersama Presiden China Xi Jinping di Beijing (14/5)

Selat Hormuz menjadi perhatian karena merupakan jalur utama distribusi minyak dunia. China sendiri diketahui masih bergantung pada pasokan energi dari Iran, sementara situasi di kawasan Timur Tengah belakangan kembali memanas akibat meningkatnya tensi geopolitik.

Gedung Putih juga mengungkapkan bahwa Xi Jinping menegaskan penolakan China terhadap militerisasi Selat Hormuz maupun upaya pengenaan biaya tol terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut.

Tak hanya itu, Xi disebut menyampaikan ketertarikan China untuk meningkatkan pembelian minyak dari Amerika Serikat guna mengurangi ketergantungan Beijing terhadap jalur energi di kawasan Teluk. Meski demikian, pejabat Gedung Putih tidak menjelaskan lebih lanjut apakah China siap mengambil langkah lebih jauh untuk membantu meredakan konflik yang melibatkan Iran.

Selain isu Timur Tengah, Trump dan Xi turut membahas hubungan perdagangan kedua negara yang selama beberapa tahun terakhir penuh ketegangan. Detail kesepakatan ekonomi belum diumumkan, namun kedua pihak disebut membuka ruang kerja sama baru.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Isu fentanyl juga masuk dalam agenda pembicaraan. Pemerintah AS selama ini terus menekan China terkait aliran bahan baku narkotika sintetis yang masuk ke Amerika Serikat.

Kunjungan Trump ke China pada 13–15 Mei 2026 menjadi sorotan internasional karena merupakan lawatan pertama presiden AS ke Negeri Tirai Bambu dalam hampir sembilan tahun terakhir. Ini juga menjadi kunjungan kedua Trump ke China setelah lawatan pertamanya pada 2017.

Halaman Selanjutnya

Sebelum keberangkatannya, Trump sempat memberi sinyal akan membahas berbagai isu sensitif dengan Xi Jinping, termasuk soal penjualan senjata AS ke Taiwan yang selama ini menjadi sumber ketegangan utama antara Washington dan Beijing.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |