Jakarta, VIVA – Industri kecantikan di Indonesia berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Di satu sisi, konsumen kini semakin cerdas dan kritis. Namun di sisi lain, masih banyak produk skincare yang beredar dengan klaim berlebihan alias overclaim—menjanjikan hasil instan tanpa dasar ilmiah yang jelas.
Fenomena ini kembali jadi sorotan dalam sebuah acara peluncuran produk perawatan kulit di Jakarta. Momentum tersebut turut mengangkat isu penting: bagaimana mengenali produk yang aman dan tidak sekadar menjual klaim.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Berikut lima ciri skincare yang patut diwaspadai karena berpotensi overclaim. Yuk scroll!
1. Menjanjikan Hasil Instan Tanpa Penjelasan Ilmiah
Produk yang mengklaim bisa memutihkan, menghilangkan flek, atau membuat kulit glowing dalam hitungan hari tanpa memaparkan kandungan aktif dan mekanismenya perlu dicurigai. Skincare berbasis sains umumnya menjelaskan bahan aktif, konsentrasi, serta cara kerjanya di kulit.
Sebagai contoh, dalam peluncuran terbarunya, Newlab+ memperkenalkan Brightlogy Intensive UV Shield Day Cream dan Brightlogy Intensive Night Cream dengan penekanan pada kandungan 1% hexylresorcinol. Brand ini menyebutkan efikasinya setara 4% hydroquinone, namun tetap terdaftar BPOM dan bersertifikat halal. Transparansi seperti ini menjadi salah satu aspek penting untuk menilai kredibilitas produk.
![]()
2. Tidak Transparan Soal Kandungan
Overclaim sering kali disertai minimnya informasi komposisi. Padahal, konsumen berhak mengetahui bahan aktif yang digunakan, terutama untuk kandungan pencerah atau eksfoliator yang berisiko bila dipakai jangka panjang tanpa pengawasan.
Influencer sekaligus edukator kecantikan Doktif menyoroti pentingnya kejujuran formulasi dalam review terbarunya.
“Brightlogy Intensive Night Cream telah kami review dari sisi kandungan aktif yang digunakan dan formulasi secara keseluruhan telah sesuai secara fungsi tanpa adanya overclaim terhadap manfaat produk,” ujarnya di acara NEWLAB+ World Record Exclusive New Product Launch & MURI Award di kawasan Jakarta Barat, Rabu 25 Februari 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
3. Menggunakan Narasi “Paling Tinggi” Tanpa Bukti Uji Klinis
Istilah seperti “kasta tertinggi”, “nomor satu”, atau “paling ampuh” sering dipakai untuk menarik perhatian. Namun tanpa dukungan data uji klinis, klaim tersebut hanya sebatas strategi pemasaran.
Halaman Selanjutnya
Dalam konteks ini, konsumen perlu membedakan antara jargon marketing dan data ilmiah yang bisa diverifikasi.

2 weeks ago
12











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)
