VIVA – Babak 32 besar Piala Dunia 2026 berakhir dengan menyisakan banyak cerita yang sulit diprediksi. Format baru yang diterapkan FIFA dengan menambah jumlah peserta menjadi 48 negara ternyata tidak mengurangi kualitas pertandingan. Sebaliknya, fase gugur pertama dalam sejarah Piala Dunia justru dipenuhi drama, kejutan, hingga lahirnya sejumlah rekor baru.
Sejumlah tim unggulan harus mengakhiri perjalanan lebih cepat. Jerman kehilangan rekor sakralnya di adu penalti, Belanda kembali menjadi korban tim Afrika, sementara Kroasia gagal melanjutkan kiprahnya setelah ditundukkan Portugal. Di sisi lain, negara-negara yang selama ini kerap dianggap sebagai pelengkap justru tampil berani dan mampu bersaing dengan kekuatan tradisional sepak bola dunia.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Jika pada edisi-edisi sebelumnya tim unggulan relatif mudah melewati laga pertama fase gugur, situasi berbeda terjadi di Piala Dunia 2026. Sejumlah negara favorit dipaksa bermain hingga babak tambahan waktu, bahkan ada yang harus pulang lebih cepat setelah kalah adu penalti. Babak 32 besar pun langsung menghadirkan kejutan sejak hari pertama.
Kai Havertz dan Jamal Musiala di Timnas Jerman
Photo :
- REUTERS/Amanda Perobelli
Berikut deretan fakta menarik yang menjadi sorotan sepanjang babak 32 besar Piala Dunia 2026.
1. Babak 32 Besar Perdana Langsung Mengubah Wajah Piala Dunia
Piala Dunia 2026 menjadi edisi paling revolusioner sejak format 32 tim diperkenalkan pada 1998. Untuk pertama kalinya, FIFA menggelar turnamen yang diikuti 48 negara, sehingga fase gugur dimulai dari babak 32 besar.
Perubahan tersebut sempat menuai kritik karena dikhawatirkan menurunkan kualitas pertandingan. Banyak pihak beranggapan semakin banyak peserta hanya akan memperbesar kesenjangan kualitas antarnegara.
Namun, kekhawatiran itu tidak terbukti pada babak 32 besar. Justru sebaliknya, hampir seluruh pertandingan berlangsung kompetitif. Dari 16 laga yang dimainkan, lima di antaranya harus berlanjut hingga babak tambahan waktu, sedangkan tiga pertandingan ditentukan melalui adu penalti.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Produktivitas gol juga tergolong tinggi. Total 47 gol tercipta sepanjang babak 32 besar, atau rata-rata hampir tiga gol setiap pertandingan. Angka tersebut menunjukkan sebagian besar laga berlangsung terbuka dengan intensitas tinggi, bukan pertandingan yang berjalan satu arah seperti kekhawatiran sebelum turnamen dimulai.
hasil ini menjadi sinyal positif bahwa ekspansi peserta mampu memperluas persaingan tanpa mengurangi kualitas kompetisi.
Halaman Selanjutnya
2. Tim Papan Atas Eropa Mulai Kehilangan Dominasi

1 week ago
1











