Alasan Bandara Tak Bisa Beroperasi di Tengah Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

3 hours ago 2

Senin, 7 September 2026 - 13:48 WIB

VIVA – Operasional penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta masih dihentikan sementara menyusul meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Kebijakan tersebut kembali diperpanjang hingga Senin, 7 September 2026 pukul 18.00 WIB karena kondisi abu vulkanik masih menjadi perhatian dalam aspek keselamatan penerbangan.

Sebelumnya, penghentian penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta hanya diberlakukan pada Minggu, 6 September 2026. Namun, perkembangan aktivitas vulkanik membuat masa penutupan harus beberapa kali disesuaikan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada tahap sebelumnya, operasional bandara diperpanjang hingga Senin pagi pukul 08.59 WIB. Kini, penghentian sementara kembali diperpanjang sampai pukul 18.00 WIB pada hari yang sama.

Informasi tersebut disampaikan melalui keterangan resmi pengelola Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan potensi penyebaran abu vulkanik yang dapat memasuki area atau jalur penerbangan.

"Sehubungan dengan meningkatnya aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau, Bandara Internasional Soekarno-Hatta melakukan penghentian operasional penerbangan sampai pukul 18.00 WIB," tulis keterangan resmi Bandara Soekarno Hatta dikutip dari akun Instagram @soekarnohattaairport, Senin 7 September 2026.

Abu Vulkanik Berbahaya bagi Mesin Pesawat

Penutupan sementara bukan semata-mata karena jarak pandang atau kondisi cuaca. Abu vulkanik memiliki karakteristik yang berbeda dari awan biasa dan dapat menimbulkan risiko serius terhadap pesawat apabila masuk ke dalam sistem mesin.

Material yang dikeluarkan saat erupsi terdiri dari partikel batuan, mineral, dan material vulkanik berukuran sangat kecil. Sebagian partikelnya juga memiliki sifat abrasif sehingga dapat mengikis permukaan berbagai komponen pesawat.

Risiko paling serius terjadi ketika abu vulkanik terhisap ke mesin jet. Temperatur di ruang pembakaran mesin pesawat dapat mencapai sekitar 1.400 hingga 2.000 derajat Celsius. Sementara itu, material yang mengandung silika pada abu vulkanik dapat meleleh pada temperatur yang lebih rendah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ketika partikel tersebut masuk ke mesin, material dapat mencair dan kemudian menempel kembali sebagai endapan menyerupai kaca pada bagian turbin. Penumpukan material ini berpotensi mengganggu aliran udara dan kinerja mesin, bahkan dapat menyebabkan engine stall hingga flameout atau matinya pembakaran mesin.

Artinya, pesawat yang terbang melewati area dengan konsentrasi abu vulkanik tidak hanya menghadapi persoalan jarak pandang, tetapi juga risiko terhadap sistem propulsi.

Halaman Selanjutnya

Abu Vulkanik Bisa Mengganggu Penglihatan Pilot

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |