Jakarta, VIVA – Saham raksasa e-commerce dan komputasi awan (Cloud), Amazon, mengalami koreksi panjang selama sembilan hari perdagangan. Penurunan tajam tercatat mencapai 18 persen yang menyebabkan kapitalisasi pasar ludes miliaran dolar.
Nilai pasar Amazon tergerus sekitar US$450 miliar atau setara Rp 7.616,9 triliun (estimasi kurs Rp 16.930 per dolar AS). Lenyapnya kapitalisasi pasar Amazon terjadi pada sesi perdagangan 2-13 Februari 2026 bahkan menjadi penurunan terburuk sejak satu dekade.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dikutip dari CNBC Internasioanal, para investor melakukan aksi ambil untung (profit taking) imbas kekhawatiran rencana perusahaan akan menggelontorkan dana fantastis untuk pembelian teknologi kecerdasan buatan (AI). Tekanan juga diperparah laporan penjualan dan kinerja kuartal IV-2025 yang baru dirilis pada awal bulan Februari 2026.
Dalam laporan tersebut, Amazon mengumumkan rencana belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$200 miliar tahun ini. Jumlah tersebut melonjak hampir 60 persen dibandingkan tahun lalu dan sekitar US$50 miliar di atas ekspektasi Wall Street.
Ilustrasi kecerdasan buatan (AI).
Photo :
- freepik.com/freepik
Sebagian besar belanja akan dialokasikan untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI), termasuk pembangunan pusat data, pembelian chip, serta infrastruktur jaringan.
Langkah agresif ini memicu kekhawatiran investor.
Para investor mempertanyakan apakah investasi jumbo di AI justru akan menekan atau bahkan menggerus arus kas bebas (free cash flow) perusahaan dalam jangka pendek.
Secara industri, perlombaan belanja AI memang sedang memanas. Belanja modal gabungan Amazon bersama Alphabet, Microsoft, dan Meta diperkirakan bisa menembus US$700 miliar tahun ini untuk membangun infrastruktur AI.
CEO Amazon, Andy Jassy, menyampaikan optimisme kepada para analis bahwa pengeluaran besar-besaran ini akan menghasilkan imbal hasil (return) yang setimpal.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Petinggi perusahaan yang lain, CEO Amazon Web Services (AWS), Matt Garman, juga menilai peningkatan capex justru menjadi kunci untuk merebut peluang AI di bisnis cloud. Ia menyebut tambahan investasi akan memperbesar kapasitas dan daya saing AWS.
Analis Wedbush menilai Amazon kini berada dalam tahap pembuktian kepada investor. Perusahaan ingin menunjukkan kepada investor dapat memberikan imbal hasil yang memuaskan atas capex yang dialokasikan untuk belanja AI.
Halaman Selanjutnya
“Peningkatan belanja akan tetap menjadi beban sentimen selama investor mencerna panduan perusahaan dan kemungkinan besar mereka akan menunggu bukti imbal hasil yang lebih nyata sebelum kembali merasa nyaman,” tulis analis Wedbush dalam risetnya.

2 weeks ago
4











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)
