VIVA –Kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh seorang ayah bukan hanya meninggalkan luka fisik dan emosional bagi pasangan, tetapi juga dapat berdampak panjang pada perkembangan anak. Ketika anak tumbuh di tengah kekerasan, ketegangan, dan ketakutan pengalaman tersebut dapat membentuk cara pandangnya terhadap hubungan dan emosi di masa depan.
Pertanyaan yang sering muncul adalah, apakah anak yang tumbuh dengan ayah yang melakukan kekerasan berisiko menjadi pribadi yang juga pelaku kekerasan saat dewasa? Melansir laman imprintnews.org, Jumat 26 Juni 2026, sebuah penelitian yang dipublikasikan pada April tahun lalu menemukan adanya hubungan antara anak yang menjadi korban kekerasan dengan kecenderungan menjadi pelaku kekerasan dalam hubungan intim saat dewasa. Temuan ini dinilai membutuhkan respons besar dari berbagai pihak, menurut peneliti utama studi tersebut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Ada kebutuhan untuk pendekatan kesehatan masyarakat, kampanye nasional, dan edukasi," ujar peneliti dari Washington University di St. Louis, Lina Millett.
Studi yang diterbitkan di jurnal Child Maltreatment ini melibatkan lebih dari lima ribu anak dengan kasus kekerasan dan penelantaran yang terdokumentasi. Selama 16 tahun, para peneliti mengikuti perkembangan para peserta, lalu mengumpulkan data kekerasan dalam hubungan intim dari catatan penangkapan dan perintah perlindungan (restraining order).
Studi ini menjadi yang pertama dengan skala sebesar itu yang menggunakan data administratif, bukan hanya mengandalkan ingatan atau pengakuan peserta tentang pengalaman kekerasan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan dan penelantaran pada masa kecil memiliki dampak langsung terhadap kecenderungan seseorang menjadi pelaku kekerasan dalam hubungan intim saat dewasa, khususnya pada laki-laki. Dengan kata lain, anak laki-laki yang pernah mengalami kekerasan atau penelantaran lebih berisiko menjadi pelaku kekerasan terhadap pasangannya ketika dewasa dibandingkan mereka yang tidak mengalami hal tersebut.
Penelitian ini juga menemukan bahwa pengalaman kekerasan atau penelantaran pada masa kecil dapat menjadi prediktor perilaku kekerasan saat remaja serta penggunaan layanan kesehatan mental pada kedua jenis kelamin. Selain itu, pada anak laki-laki juga ditemukan peningkatan risiko penyalahgunaan zat saat remaja. Anak-anak dengan kombinasi faktor risiko tersebut diketahui memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk menjadi pelaku kekerasan dalam hubungan saat dewasa.
Halaman Selanjutnya
Teori pembelajaran sosial menjelaskan bahwa perilaku dipelajari dalam konteks sosial melalui pengamatan atau instruksi. Hal ini menunjukkan bahwa anak dapat mempelajari perilaku kekerasan dari lingkungan rumahnya, yang kemudian memicu munculnya perilaku agresif saat remaja. Kondisi ini pada akhirnya meningkatkan risiko mereka menjadi pelaku kekerasan saat dewasa.

2 weeks ago
4











