Jakarta, VIVA – Tokoh NU, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur menyampaikan pandangannya terkait penetapan tersangka Eks Jampidsus, Febrie Adriansyah terkait dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU). yang menyeretnya.
Gus Lilur menyebut Febrie merupakan ketua pelaksana Satgas PKH. Ia menilai Febrie sebagai pembantu Presiden Prabowo Subianto yang berupaya menutupi kebocoran negara.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Febrie bukan orang sembarangan dalam arsitektur pemberantasan korupsi kita. Ia adalah Ketua Pelaksana Satgas PKH. Orang yang berdiri di garis paling depan penyelamatan jutaan hektare aset negara," kata dia dalam keterangan tertulisnya, Senin, 13 Juli 2026.
Namun, ia menyayangkan Febrie harus terseret kasus dugaan korupsi dan TPPU. Ia beranggapan bahwa Febrie Adriansyah tak melakukan kejahatan itu seorang diri.
"Orang yang seharusnya paling membantu presiden menutup kebocoran kekayaan negara, kini justru diduga menjadi bagian dari kebocoran itu sendiri. Jika penegak hukum yang dititipi brankas negara diduga menyimpan brankas pribadinya sendiri di rumah dan di balik kafe, maka pertanyaannya bukan lagi soal satu orang," katanya.
Ia berharap agar Kejagung bisa menuntaskan kasus korupsi yang menyeret Febrie. Pun, Kejagung juga harus membuka kasus tersebut kepada publik jika Febrie terbukti bersalah.
"Kejaksaan Agung harus memproses perkara ini setuntas-tuntasnya dan seterbuka-terbukanya, umumkan setiap tahap kepada publik, kenakan rompi tersangka, borgol bila syarat penahanan terpenuhi, hadapkan ke muka persidangan yang terbuka, dan biarkan hukum menjatuhkan hukuman yang setimpal jika terbukti bersalah," kata dia.
Ia menilai Presiden Prabowo Subianto sudah terlalu sering menerima kritikan yang tajam dari masyarakat. Gus Lilur berharap agar proses penegakan hukum terhadap Febrie bisa lepas dari sandiwara.
"Presiden harus dilindungi dari kemarahan rakyat Indonesia, sebab rakyat pasti akan murka jika kasus sebesar ini menguap tanpa penegakan hukum yang seadil-adilnya," katanya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Gus Lilur mengungkapkan, sejarah memberi kita guru terbaik tentang bagaimana sebuah bangsa keluar dari luka, Nelson Mandela. Setelah dipenjara 27 tahun oleh rezim apartheid, Mandela tidak keluar membawa dendam.
Lebih lanjut dia mengatakan, kohesi antarinstitusi harus ditanamkan secara sistemik, sejak pendidikan aparat hingga ruang komando tertinggi, bahwa mereka semua bekerja untuk republik yang satu, bukan untuk kejayaan korpsnya masing-masing. Dan perekat kohesi itu hanya satu, keterbukaan informasi.
Halaman Selanjutnya
Dia berpendapat, yang harus diwaspadai adalah keteduhan palsu—jangan sampai teduh di permukaan, tetapi di bawah meja ada kompromi yang tidak baik. Keteduhan sejati sebuah republik lahir dari keadilan yang ditegakkan, bukan dari perkara yang dipetieskan.

1 day ago
9











