Badan Geologi Ungkap Potensi Bahaya di Balik Erupsi Berulang Anak Krakatau

4 hours ago 1

Minggu, 6 September 2026 - 12:45 WIB

VIVA Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi berulang sejak Jumat, 4 September 2026. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan, peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau ditandai dengan frekuensi erupsi yang terjadi secara terus-menerus dalam beberapa waktu terakhir.

"Ada beberapa kekhawatiran tentunya terhadap aktivitas Gunung Krakatau. Bahwa aktivitas Gunung Krakatau saat ini memang meningkat dibandingkan periode sebelumnya, ditandai oleh erupsi yang berulang dan berlangsung secara terus menerus. Kondisi tersebut menunjukkan adanya suplai magma dan gas dalam tubuh gunung yang masih berlangsung,"kata Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria dalam virtual press conference, Minggu 6 September 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski erupsi terjadi secara intens, dia menegaskan bahwa tingginya frekuensi letusan tidak serta merta menjadi indikator akan terjadinya erupsi yang jauh lebih besar. 

"Namun, erupsi yang sering tidak otomatis berarti akan terjadi erupsi yang lebih besar. Di mana Badan Geologi tentunya akan terus mengevaluasi perkembangan aktivitas berdasarkan seluruh data pemantauan, bukan hanya berdasarkan jumlah atau tinggi kolom erupsi," kata dia.

Sementara itu terkait dengan pontensi bahaya terbesar yang perlu diwaspadai saat ini kata Lana adalah lontaran materi pijar, aliran materi pijar dan batuan vulkanik hingga paparan gas vulkanik.

"Bahaya yang paling perlu diwaspadai saat ini adalah lontaran materi pijar dan juga batuan vulkanik, serta abu vulkanik, gas vulkanik berkonsentrasi tinggi, serta kemungkinan aliran material erupsi di sekitar kawah dan tubuh Gunung Anak Krakatau," kata dia lebih lanjut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dijelaskan Lana, lontaran material ini dapat merusak peralatan yang berada dekat dengan pusat aktivitas dan membahayakan siapa pun yang masuk zona terlarang.  Dia juga menjelaskan bahwa aktivitas vulkanik Anak Krakatau masih berpotensi fluktuatif dalam waktu beberapa waktu ke depan.

"Potensi berfluktuasi dan meningkat ini karena gempa frekuensi rendah dan juga hibrid, dominan serta tremor yang signifikan. Sehingga jenis kegempaan tersebut menunjukkan pergerakan atau pelepasan fluida vulkanik dalam sistem gunung api. Meskipun demikian, waktu, besar, dan bentuk erupsi berikutnya tidak dapat dipastikan secara tepat. Karena itu, evaluasi dilakukan secara berkelanjutan berdasarkan perubahan seluruh parameter pemantauan," kata dia.

Halaman Selanjutnya

Sementara itu, terkait peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau dan kemungkinan terjadinya tsunami, Lana menjelaskan bahwa tidak setiap erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |