loading...
Ramdansyah (baju merah), Praktisi Hukum Troya - Tifa Roy Suryo’s Advocate. Foto: Istimewa
Ramdansyah
Praktisi Hukum Troya - Tifa Roy Suryo’s Advocate
KETIKA seorang figur publik tiba-tiba menghilang dari ruang publik, yang lahir bukan sekadar kekosongan—melainkan ledakan tafsir. Itulah yang terjadi dalam polemik ijazah Presiden Joko Widodo, ketika absennya dr. Tifa justru menjelang Lebaran 2026 memicu banjir spekulasi.
Dalam hitungan jam, ruang digital dipenuhi narasi: dari tekanan politik hingga dugaan penyelesaian melalui Restorative Justice seperti yang dilakukan Rismon Sianipar. Tanpa satu pernyataan pun dari yang bersangkutan, publik merasa telah memiliki kesimpulan.
Fenomena ini menunjukkan satu hal: dalam ekosistem digital hari ini, kekosongan informasi tidak pernah benar-benar kosong. Ia selalu segera diisi—bukan oleh fakta, melainkan oleh asumsi.
Di Indonesia, di mana media sosial menjadi sumber utama informasi, kecepatan distribusi kerap melampaui kemampuan verifikasi. Akibatnya, persepsi terbentuk lebih dulu, sementara fakta tertinggal.
Konten yang sensasional dan emosional terbukti lebih mudah viral dibanding informasi faktual (Shu dkk, 2020). Di sinilah problem utamanya: kebenaran tidak lagi cukup hanya ada—ia harus bersaing.
Ketika Publik Tidak Lagi Menunggu
Dalam logika komunikasi publik yang sehat, ketiadaan informasi seharusnya direspons dengan kehati-hatian. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Diam ditafsirkan sebagai pengakuan, absensi dianggap sebagai kelemahan.
Pola ini terus berulang. Dalam berbagai isu—politik, hukum, hingga selebritas—publik tidak lagi menunggu klarifikasi. Mereka mengisi celah dengan narasi sendiri. Ini menandakan bahwa ruang publik kita telah kehilangan kesabaran terhadap proses verifikasi.
Padahal fakta membutuhkan waktu. Ia harus diuji, diperiksa, dan dikonfirmasi. Sebaliknya, spekulasi tidak memiliki beban itu. Ia lentur, cepat, dan secara emosional lebih menarik. Dalam ekonomi atensi, keunggulan ini membuat spekulasi hampir selalu menang pada fase awal.
Banjir Informasi, Krisis Kepercayaan
Kita tidak kekurangan informasi—kita kelebihan. Namun limpahan informasi tidak otomatis melahirkan pemahaman. Justru sebaliknya, publik semakin sulit membedakan fakta, opini, dan manipulasi.
Generasi muda, yang sebagian besar mengandalkan internet sebagai sumber utama informasi (Kops dkk, 2025), berada dalam ruang yang tidak terkurasi dan mudah dimanipulasi. Tanpa kapasitas verifikasi yang memadai, mereka menjadi sasaran empuk disinformasi.
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)



