Berani Lebih Gelap, Black Horses Bongkar Sisi “Jahanam” di Album Ketiga

3 weeks ago 19

Selasa, 19 Mei 2026 - 21:29 WIB

Jakarta, VIVA – Black Horses tampaknya tak ingin sekadar dikenal sebagai band rock dengan energi liar di atas panggung. Lewat album terbaru mereka bertajuk Jahanam, kuartet asal Jakarta itu menunjukkan transformasi musikal sekaligus keberanian untuk berbicara lebih lantang tentang situasi sosial yang mereka rasakan saat ini.

Album ketiga Black Horses ini menjadi momen penting dalam perjalanan mereka. Untuk pertama kalinya, seluruh lagu di album ditulis menggunakan bahasa Indonesia. Langkah tersebut terasa seperti upaya mendekatkan diri dengan pendengar tanpa kehilangan identitas garang yang selama ini melekat pada mereka. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Diproduseri oleh John Paul Patton alias Coki, sosok di balik Kelompok Penerbang Roket, Ali, hingga Portura, Jahanam hadir dengan nuansa classic rock yang tetap mentah dan “kotor”, namun terdengar lebih matang. Black Horses juga mulai merambah eksplorasi konsep musikal baru yang dibalut lirik satir dan realistis.

Dua single yang lebih dulu dirilis, “Tirani Tua” dan “Distorsi Menggema”, kini dilengkapi sederet lagu baru dalam album tersebut. Di antara semuanya, “Jejak Waktu” dipilih sebagai lagu andalan setelah perilisan album penuh ini.

Bagi para pendengar lama Black Horses yang akrab disebut Kusir-Kusir, “Jejak Waktu” bisa menjadi penanda evolusi baru band ini. Lagu tersebut terasa lebih dewasa tanpa perlu kehilangan karakter keras mereka. Black Horses seolah ingin menunjukkan bahwa kemarahan dan kritik tak harus selalu disampaikan dengan umpatan atau kata-kata kasar.

Perilisan video musik “Jejak Waktu” semakin menegaskan arah baru tersebut. Visual dan atmosfer yang dibangun terasa lebih emosional, namun tetap menyimpan bara khas Black Horses.

“Album ini adalah bentuk respons bagi para Kusir dan pendengar kami untuk bisa lebih relate dengan apa yang kami rasakan belakangan ini, terutama situasi yang terjadi di sekitar kita, apapun konteksnya.” ujar Oscar memaknai perilisan Jahanam, mengutip keterangannya, Selasa 19 Mei 2026. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Lucky menambahkan bahwa album ini bukan hanya sekadar proyek musik biasa bagi mereka.

“Ini lebih dari sekadar album atau kumpulan lagu, ini adalah penanda zaman dari Black Horses untuk kita semua yang tinggal di Indonesia," ungkapnya.

Halaman Selanjutnya

Di balik proses kreatif album ini, Coki mengaku tantangan terbesar justru datang dari upaya menyatukan idealisme musik dengan kedekatan terhadap audiens.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |