Jakarta, VIVA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan melakukan modifikasi cuaca di Jakarta, Banten hingga Lampung imbas erupsi anak Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat, 4 September 2026 lalu.
Kepala BNPB, Suharyanto menjelaskan modifikasi cuaca ini diharapkan dapat mengurai abu vulkanik untuk tiga wilayah yang terdampak tersebut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Hari ini juga kita melaksanakan operasi modifikasi cuaca. Jadi pesawatnya sudah siap di Pondok Cabe, hari ini akan dilaksanakan operasi modifikasi cuaca sampai malam," ujar Suharyanto dalam konferensi pers, Minggu, 6 September 2026.
Dia menjelaskan, ada dua teknik operasi modifikasi cuaca (OMC) ini yang telah dipersiapkan. Pertama, dengan menggunakan metode untuk mendatangkan hujan.
"Kalau hujannya nanti turun dengan cukup deras begitu, tentu saja abu-abu vulkanik yang sekarang dari mulai kemarin sampai hari ini mengganggu kehidupan kita, ini bisa segera luruh," imbuhnya.
Sementara itu, metode kedua dilakukan dengan cara OMC Water Mist apabila tidak ada pertumbuhan hujan. Metode ini dilakukan dengan cara menyemprotkan partikel halus ke udara.
Nantinya, metode ini bakal mengurai partikel abu vulkanik yang berbahaya, sehingga kualitas udara yang terdampak diharapkan dapat menjadi lebih baik.
"Tapi untuk DKI Jakarta, Banten, dan Lampung, apabila tidak ada pertumbuhan awan hujan, ini kami dengan BMKG juga sepakat untuk menggunakan metode water mist, yaitu untuk mengurai partikel abu yang berbahaya," imbuhnya.
Selain modifikasi cuaca, Suharyanto mengatakan pihaknya telah mulai mendistribusikan kebutuhan dasar bagi masyarakat terdampak.
"Kemudian yang terakhir, BNPB juga sudah mulai mendistribusikan kebutuhan-kebutuhan logistik masyarakat seperti kebutuhan logistik dasar, kemudian juga masker," pungkasnya.
Sebagai informasi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, tidak berpotensi memicu tsunami.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kepala PVMBG Badan Geologi Rita Susilawati mengatakan hasil evaluasi menunjukkan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil sehingga tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
"Untuk tsunami, hasil evaluasi kami, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi yang dapat memicu tsunami," kata Rita di Bandung, Sabtu.
Halaman Selanjutnya
Ia menjelaskan, Gunung Anak Krakatau saat ini masih mengalami proses pembentukan kubah lava baru setelah sebelumnya terjadi runtuhan tubuh gunung tersebut.

5 hours ago
1












