BRI Raup Laba Rp57,13 Triliun di 2025, Kredit UMKM Jadi Mesin Pertumbuhan

2 weeks ago 12

Kamis, 26 Februari 2026 - 14:05 WIB

Jakarta, VIVA – Emiten perbankan bagian Himbara, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), melaporkan kinerja keuangan  sepanjang tahun buku 2025. Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp57,13 triliun ditopang berbagai indikator keuangan yang solid. 

Total aset perseroan naik 7,2 persen secara year on year (yoy) menjadi 2.135,3 triliun dari 1.922,1 pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan aset berasal dari ekspansi kredit dan pembiayaan yang meningkat signifikan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kredit dan pembiayaan tumbuh 12,3 persen atau sekitar Rp166,8 triliun secara tahunan menjadi Rp1.521 triliun. Segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memberikan kontribusi terbesar sekaligus mendominasi portofolio kredit perseroan yang menjadi fokus utama strategi bisnis berkelanjutan. 

“Hal tersebut menunjukkan komitmen BRI untuk terus mendukung penguatan sektor riil khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah sebagai pilar utama perekonomian nasional,” ujar Direktur Treasury & International Banking BRI, Farida Thamrin, dalam acara Konfrerensi Pers Laporan Kinerja Keuangan Triwulan IV-2025 secara daring, Kamis, 26 Februari 2026.

Direktur Treasury & International Banking BRI Farida Thamrin

Direkur Utama BRI, Hery Gunardi, mengatakan pertumbuhan kredit yang tinggi tetap diimbangi dengan prinsip kehati-hatian yang kuat. Hal ini tercermin dari rasio non-performing loan (NPL) yang tetap terkendali di level 3,07 persen hingga akhir 2025.

“Fundamental kinerja BRI tersebut berdampak positif terhadap capaian laba perseroan. Hingga akhir 2025 BRI berhasil mencatat kelapa bersih sebesar 57,132 triliun rupiah," kata Hery.

Selain itu, rasio loan at risk (LAR) juga membaik dari 10,7 persen pada akhir 2024 menjadi 9,6 persen pada akhir 2025. Perseroan menjaga  pencadangan yang solid dengan NPL coverage sebesar 178,1 persen.

Dari sisi pendanaan, Farida melaporkan dana pihak ketiga (DPK) juga mencatat kenaikan sebesar 7,4 persen menjadi Rp1.466 triliun. Pertumbuhan ini didukung peningkatan giro sebesar 19,7 persen dan tabungan sebesar 7,9 persen secara tahunan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Likuiditas BRI tetap berada pada level yang sehat. Rasio loan-to-deposit ratio (LDR) tercatat sebesar 91,4 persen, sementara liquidity coverage ratio (LCR) mencapai 136,9 persen dan net stable funding ratio (NSFR) sebesar 117,7 persen, jauh di atas ketentuan minimum regulator sebesar 100 persen.

Dari sisi permodalan, perseroan mempertahankan rasio capital adequacy ratio (CAR) di level 23,52 persen. Rasio CASA ikut meningkat signifikan hingga mencapai 70,6 persen yang mencerminkan semakin kuatnya struktur dana murah perseroan.

Halaman Selanjutnya

Farida menegaskan, penguatan dana murah menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang BRI. Capaian ini menunjukkan kapasitas kuat untuk menopang ekspansi bisnis secara prudent.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |