Detroit, VIVA – Selama puluhan tahun, perselisihan antara produsen mobil dan serikat pekerja umumnya berkutat pada persoalan kenaikan upah, tunjangan, hingga penutupan pabrik. Kini, muncul ancaman baru yang dinilai jauh lebih besar, yakni kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan robot di lini produksi.
Teknologi tersebut memang mampu membuat proses pembuatan mobil menjadi lebih cepat, efisien, dan presisi. Namun di sisi lain, semakin banyak pekerja yang khawatir posisinya akan tergantikan oleh mesin. Kekhawatiran itu disuarakan oleh serikat pekerja industri otomotif Amerika Serikat, United Auto Workers (UAW).
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dalam konvensi organisasi yang digelar di Detroit, disadur VIVA Otomotif dari Carscoops, Jumat 26 Juni 2026, Presiden UAW Shawn Fain menilai perkembangan AI dan robot kolaboratif atau collaborative robot (cobot) berpotensi mengurangi kebutuhan tenaga kerja di pabrik mobil.
Menurutnya, teknologi bukanlah musuh. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana keuntungan dari peningkatan produktivitas tersebut dibagikan kepada para pekerja yang selama ini menjadi bagian penting dari proses produksi.
Di sisi lain, produsen mobil memiliki pandangan berbeda. Mereka menilai penggunaan AI dan robot menjadi kebutuhan agar tetap mampu bersaing di tengah ketatnya kompetisi industri otomotif global, terutama menghadapi produsen asal China yang terus berkembang.
Dengan bantuan robot, berbagai pekerjaan berulang dapat dilakukan lebih cepat dan akurat. Selain meningkatkan kualitas produk, teknologi ini juga dinilai mampu menekan biaya produksi sehingga perusahaan bisa tetap kompetitif.
General Motors menjadi salah satu contoh pabrikan yang mulai mengandalkan cobot di fasilitas Factory ZERO di Detroit. Perusahaan menggunakan sekitar 50 robot kolaboratif yang bekerja berdampingan dengan manusia untuk meningkatkan efisiensi dan keselamatan kerja.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Meski demikian, langkah tersebut menuai sorotan karena belum lama ini General Motors juga melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap lebih dari 1.000 karyawan yang terkait dengan produksi kendaraan listrik. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran bahwa otomatisasi perlahan menggantikan peran manusia.
Tidak hanya General Motors, sejumlah produsen besar seperti Hyundai, Nissan, Ford, Honda, hingga Stellantis juga semakin banyak memanfaatkan robot dalam proses produksi. Tren tersebut menunjukkan bahwa otomatisasi bukan lagi rencana masa depan, melainkan sudah menjadi bagian dari industri otomotif modern.
Halaman Selanjutnya
Serikat pekerja berharap perkembangan teknologi tidak hanya meningkatkan keuntungan perusahaan, tetapi juga memberikan manfaat bagi para pekerja. Mereka menginginkan adanya jaminan bahwa AI dan robot digunakan untuk membantu manusia bekerja lebih produktif, bukan menjadi alasan untuk memangkas lapangan pekerjaan.

4 hours ago
1










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7178789/original/095628200_1779973255-1.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8004128/original/059258800_1780843343-word_media_image4.jpg)


