DME Digadang Jadi Pengganti LPG, Ini Catatan Penting dari Pengamat

1 week ago 4

Rabu, 6 Mei 2026 - 07:13 WIB

VIVA – Pengembangan Dimethyl Ether (DME) berbasis batubara di Indonesia menjadi sorotan setelah sejumlah pengamat menilai proyek tersebut berpotensi menambah beban emisi nasional jika tidak didukung teknologi tambahan.

Isu ini mencuat di tengah upaya pemerintah mendorong kemandirian energi sekaligus memenuhi target penurunan emisi menuju Net Zero Emission (NZE).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pemerintah mengembangkan DME sebagai bagian dari hilirisasi batubara dengan mengandalkan teknologi clean coal yang diklaim mampu menekan emisi hingga 30–40 persen dibandingkan pembakaran langsung. 

Kebijakan ini diposisikan sebagai langkah strategis agar pemanfaatan sumber daya domestik tetap berjalan seiring agenda transisi energi.

Namun, pengamat energi dari Universitas Indonesia, Iwa Garniwa, menilai pendekatan tersebut belum cukup untuk menekan emisi secara signifikan. Ia menekankan perlunya penerapan teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) agar pengembangan DME tetap sejalan dengan komitmen penurunan emisi nasional.

“Tanpa CCUS, emisi siklus hidup DME batubara 20 persen lebih tinggi dari LPG. Ini bertentangan dengan komitmen NDC (Nationally Determined Contribution),” ujar Iwa dalam keterangan tertulis Rabu, 6 Mei 2026.

CCUS sendiri merupakan teknologi yang berfungsi menangkap emisi karbon dioksida (CO2) dari aktivitas industri untuk kemudian dimanfaatkan kembali atau disimpan secara permanen guna mengurangi emisi gas rumah kaca. 

Meski demikian, kata dia, penerapannya dinilai tidak sederhana karena berdampak pada peningkatan biaya produksi.

Iwa menyebut penggunaan CCUS berpotensi menaikkan capital expenditure (capex) sekitar 20 persen dan operational expenditure (opex) sebesar 15 persen. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam implementasi proyek DME di lapangan.

Pandangan lebih kritis disampaikan Direktur Eksekutif Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia, Tata Mustasya. Ia menilai, bahkan dengan intervensi teknologi, DME tetap berpotensi menghasilkan emisi lebih tinggi dibandingkan LPG, baik dari sisi produksi maupun penggunaan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurutnya, penggunaan DME juga tidak serta-merta menggantikan konsumsi batubara di sektor pembangkit listrik, sehingga total emisi berpotensi meningkat dari dua sisi sekaligus, yakni produksi energi dan konsumsi rumah tangga.

Sementara itu, pengamat energi migas, Hadi Ismoyo, menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh dalam menghitung emisi. Ia menyarankan metode “well-to-wheel” yang memperhitungkan seluruh proses dari produksi hingga penggunaan akhir.

Halaman Selanjutnya

Menurut Hadi, proses konversi batubara menjadi syngas dalam produksi DME justru menghasilkan emisi dalam jumlah besar. Hal ini membuat total emisi tetap tinggi meskipun dari sisi pembakaran akhir terlihat setara dengan LPG atau bahan bakar lainnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |