Jakarta, VIVA – Masalah kekurangan protein masih menjadi tantangan bagi banyak masyarakat Indonesia. Padahal, jika dilihat dari ketersediaan bahan makanan, sumber protein sebenarnya cukup mudah ditemukan. Hal inilah yang disoroti oleh Dokter Tirta yang mengungkap sejumlah alasan mengapa konsumsi protein masyarakat Indonesia masih tergolong rendah.
Menurutnya, persoalan tersebut bukan semata karena keterbatasan bahan makanan. Justru, Indonesia memiliki berbagai sumber protein yang cukup mudah dijangkau seperti tempe, tahu, telur, hingga daging.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia kemudian menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama adalah kesalahpahaman yang sudah lama berkembang di masyarakat mengenai konsumsi daging. Banyak orang masih percaya bahwa makan daging akan meningkatkan kadar kolesterol secara drastis.
“Jawabannya karena edukasi zaman dulu yang mengatakan kalau kita kebanyakan makan daging nanti kolesterolnya naik,” ungkap Dokter Tirta yang dikutip dari YouTube pada Selasa, 10 Maret 2026.
Menurut Dokter Tirta, sebenarnya bukan daging yang selalu menjadi penyebab meningkatnya kolesterol. Ia menilai cara memasak dan pola makan secara keseluruhan justru memiliki peran yang jauh lebih besar terhadap kesehatan tubuh.
“Jadi karena hal itulah orang takut makan daging sapi karena dibilang ningkatin kolesterol,” tambahnya.
Selain faktor edukasi yang keliru, kondisi ekonomi juga turut memengaruhi tingkat konsumsi protein masyarakat. Dokter Tirta menilai ada hubungan yang cukup kuat antara tingkat pendapatan suatu negara dengan jumlah protein yang dikonsumsi oleh masyarakatnya.
“Kedua, pendapatan per kapita. Oke. Jadi, ada hubungan yang kuat antara pendapatan kapital sebuah negara dengan konsumsi protein,” ujarnya.
Ia bahkan memberikan contoh menarik mengenai pola konsumsi protein di Indonesia yang cenderung meningkat drastis pada momen tertentu, seperti saat perayaan Idul Adha.
“Oke, makanya konsumsi protein negara kita itu tinggi banget di satu bulan ketika kurban. Iya, makanya itu kayak prosesi proteinisasi se-Indonesia,” katanya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Selain itu, Dokter Tirta juga menyoroti kebiasaan masyarakat dalam memilih susu, terutama untuk anak-anak. Ia menjelaskan bahwa tidak semua produk yang diberi label susu benar-benar memiliki kandungan nutrisi yang baik.
“Makanya sebenarnya aku tuh secara nggak langsung setuju kalau memang kita tuh harus mulai meminum susu yang beneran susu. Karena ada susu yang titelnya susu tapi sebenarnya isinya gula semua,” ungkapnya.
Halaman Selanjutnya
Menurutnya, banyak orang tua yang belum bisa membedakan antara susu yang benar-benar mengandung nutrisi dengan produk yang lebih banyak mengandung gula tambahan.

5 hours ago
1











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)

