Harga Minyak Dunia Anjlok 10 Persen Setelah Tembus US$100, Ancaman Trump ke Iran Jadi Pemicu

4 hours ago 1

Selasa, 10 Maret 2026 - 13:53 WIB

Jakarta, VIVA – Harga minyak dunia merosot tajam lebih dari 10 persen pada awal perdagangan di Asia pada Selasa, 10 Maret 2026. Koreksi ini menyusul pernyataan keras Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, agar Iran tidak melakukan penutupan terhadap Selat Hormuz

Melansir CNBC Internasional, harga minyak mentah Brent anjlok 10 persen menjadi US$89,03 atau sekitar Rp 1.502.942 (estimasi kurs Rp 16.880 per dolar AS) per barel. Minyak mentah AS mencatat koreksi lebih dari 9 persen ke level U$86,05 atau sekitar Rp 1.452.635,87 per barel.  

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penurunan ini terjadi setelah harga minyak melonjak melewati US$100 pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026. Bahkan, harga minyak dunia dilaporkan sempat melonjak hampir menyentuh level US$120. 

Lonjakan tersebut dipicu kekhawatiran pasar bahwa perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran akan mengganggu pasokan energi global dalam waktu lama. Terlebih sikap pemerintah Iran akan menutup Selat Hormuz menyebabkan kekhawatiran. 

Namun, sentimen pasar berubah setelah Trump memberikan sinyal akan segera mengakhiri konflik di Timur Tengah. Ia juga memperingatkan Iran agar tidak mengganggu jalur pengiriman energi global yang vital.

Presiden AS Donald Trump saat memaparkan operasi Absolute Resolve di Venezuela

“Jika Iran melakukan sesuatu yang menghentikan aliran minyak melalui Selat Hormuz, mereka akan dihantam oleh AS dua puluh kali lebih keras dari yang sudah terjadi sejauh ini,” tulis Trump melalui media sosial dikutip dari BBC, Selasa, 10 Maret 2026. 

Analis dari InterCapital Energy, Alberto Bellorin, mengatakan pasar energi saat ini berada dalam kondisi tarik-menarik yang kuat antara risiko geopolitik dan harapan meredanya konflik. Meski di satu sisi, penurunan harga minyak memberi ruang bernapas bagi pelaku pasar. 

"Perdagangan minyak akan tetap sangat fluktuatif" dan harga kemungkinan akan melonjak jika konflik meningkat dan turun jika tampaknya mereda," ujar Bellorin.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Salah satu faktor krusial dalam konflik ini adalah Selat Hormuz, jalur pelayaran sempit yang menjadi rute sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Gangguan di kawasan tersebut dapat memicu guncangan besar pada pasar energi global.

Negara-negara anggota Group of Seven (G7) menyatakan siap mengambil langkah untuk menjaga pasokan energi global. Pertemuan para pemimpin G7 dengan International Energy Agency juga membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak strategis guna meredam lonjakan harga.

Halaman Selanjutnya

Sampai saat ini, belum ada keputusan final terkait pelepasan cadangan tersebut. Namun, Pemerintah Inggris akan mendesak agar ketegangan di Timur Tengah segera mereda demi menjaga keamanan jalur pelayaran energi di kawasan Selat Hormuz.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |