Jakarta, VIVA – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama. Dalam beberapa tahun terakhir, angka kasus yang dilaporkan terus meningkat. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran berbagai pihak karena menunjukkan masih banyak perempuan dan anak yang belum mendapatkan perlindungan maksimal.
Isu tersebut juga menjadi sorotan dalam forum peringatan International Women’s Day atau Hari Perempuan Internasional yang mengangkat tema “Rights. Justice. Action. Dari Hak Menuju Aksi untuk Semua Perempuan dan Anak Perempuan”.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pendiri sekaligus Ketua FNM Society, Nila Moeloek, menegaskan bahwa isu perempuan bukan sekadar soal kesetaraan, tetapi juga menyangkut hak dasar yang berdampak pada kualitas hidup masyarakat secara luas.
“Hari Perempuan Internasional telah tiba, mari kita move on dari wacana menuju aksi nyata,” ujarnya dalam sambutan di Hotel Raffles Jakarta pada Selasa, 10 Maret 2026.
Forum ini diselenggarakan oleh Farid Nila Moeloek Society bekerja sama dengan PT Takeda Innovative Medicines sebagai ruang diskusi untuk mendorong penguatan pemberdayaan perempuan di Indonesia.
Ia juga mengingatkan bahwa kekerasan terhadap perempuan masih menjadi masalah global yang nyata.Menurut Nila Moeloek, perlindungan terhadap perempuan tidak bisa dilakukan secara parsial. Akses terhadap kesehatan, pendidikan, hingga keadilan hukum harus berjalan beriringan agar perempuan benar-benar mendapatkan haknya.
“Di saat 1 dari 3 perempuan mengalami kekerasan dalam hidupnya, sistem kesehatan harus hadir sebagai garda depan perlindungan, bukan hanya sebagai tempat pengobatan,” ungkapnya.
![]()
Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, mengungkap bahwa pemerintah telah melakukan analisis terkait meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Ia menyebut ada beberapa faktor utama yang menjadi penyebabnya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Ini sangat penting untuk kita karena kami secara internal melakukan analisa kenapa kekerasan terhadap perempuan dan anak semakin tinggi. Analisa pertama faktor ekonomi, yang kedua faktor pola asuh, yang ketiga karena pengaruh gadget, pengaruh media sosial yang tidak digunakan secara bijaksana,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi ekonomi keluarga yang tidak stabil sering kali memicu konflik yang berujung pada kekerasan. Selain itu, pola asuh yang kurang tepat juga dapat memperbesar risiko terjadinya kekerasan dalam lingkungan keluarga.
Halaman Selanjutnya
Faktor lain yang kini semakin mendapat perhatian adalah penggunaan gadget dan media sosial yang tidak bijak, terutama pada anak-anak.

4 hours ago
1











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)

