Ekonom Sebut Pelemahan Ekspor RI Hanya Terkonsentrasi di Beberapa Komoditas, Cek Datanya

1 week ago 3

Jumat, 3 Juli 2026 - 23:49 WIB

Jakarta, VIVA – Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai, fondasi ekspor Indonesia masih cukup kuat meski nilai ekspor non-migas pada Mei 2026 mengalami kontraksi 4,5 persen secara tahunan.

Yusuf menilai, pelemahan itu lebih dipengaruhi oleh penurunan pada sejumlah komoditas tertentu, sementara kinerja ekspor secara kumulatif masih mencatat pertumbuhan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dia menjelaskan, sumber tekanan ekspor non-migas pada Mei 2026 terkonsentrasi pada beberapa komoditas utama, dan bukan menunjukkan pelemahan yang terjadi secara menyeluruh.

"Kalau kita bedah kontraksi ekspor non-migas sebesar 4,5 persen pada Mei 2026, sumber tekanannya sebenarnya cukup terkonsentrasi dan bukan pelemahan yang terjadi di hampir semua komoditas," kata Yusuf, Jumat, 3 Juli 2026.

Aktivitas di Terminal Peti Kemas (TPK) Pelabuhan Tanjung Emas Semarang

Photo :

  • ANTARA FOTO/Aji Styawan

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, nilai ekspor Indonesia pada Mei 2026 mencapai US$23,2 miliar, atau turun 5,73 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pelemahan ini terutama dipicu penurunan ekspor non-migas.

Nilai ekspor non-migas mencapai US$22,45 miliar, atau kontraksi 4,5 persen dibandingkan Mei 2025. Pada April 2026, nilai ekspor RI tercatat mencapai US$25,30 miliar atau tumbuh 21,98 persen.

Secara komoditas, penurunan ekspor non-migas pada Mei 2026 terbesar berasal dari ekspor logam mulia serta perhiasan dan permata, yang turun 59,35 persen. Sehingga memberikan andil negatif sekitar 2,93 persen terhadap kinerja ekspor nonmigas.

Selain itu, ekspor bijih logam, terak, dan abu merosot 99,25 persen, sedangkan ekspor besi dan baja turun 14,68 persen. Menurut Yusuf, penurunan ekspor bijih logam merupakan konsekuensi dari kebijakan pemerintah, yang melarang ekspor bahan mentah sebagai bagian dari upaya mendorong hilirisasi.

"Jadi ini lebih merupakan konsekuensi kebijakan daripada sinyal melemahnya daya saing ekspor," ujar Yusuf.

Sementara itu, koreksi ekspor logam mulia menurutnya dipengaruhi normalisasi harga emas, setelah reli yang sangat tinggi pada tahun lalu. Sehingga efek basis perbandingannya menjadi kurang menguntungkan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Yusuf menambahkan, pelemahan ekspor besi dan baja masih dipicu belum pulihnya permintaan dari China, terutama akibat lemahnya sektor properti dan konstruksi di negara tersebut.

Dia menambahkan, tarif resiprokal AS sebesar 19 persen, mulai menjadi tambahan tekanan terhadap ekspor Indonesia. Namun, Yusuf menilai dampaknya sejauh ini lebih banyak dirasakan industri tekstil, alas kaki, dan elektronik, sehingga belum menjadi penyebab utama pelemahan ekspor non-migas pada Mei.

Halaman Selanjutnya

"Meski demikian, fundamental ekspor Indonesia masih terjaga. Secara kumulatif sepanjang Januari-Mei 2026, ekspor non-migas masih tumbuh 3,89 persen menjadi US$110,19 miliar," ujarnya. (Ant).

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |