Eks Mendag Gita Wirjawan: Untuk Jadi Bangsa yang Diperhitungkan, RI Punya Modalitas

3 hours ago 1

Rabu, 24 Juni 2026 - 18:24 WIB

VIVA – Menteri Perdagangan periode 2011-2014, Gita Wirjawan menegaskan Indonesia sebenarnya memegang modal yang lebih dari cukup untuk memimpin kawasan. Namun, modal itu tidak akan berarti tanpa keberanian.

Hal itu disampaikan Gita dalam Public Lecture Series menyambut Dies Natalis ke-1 Universitas Harkat Negeri (UHN) di Kampus Tegal pada Senin, 22 Juni 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Untuk jadi bangsa dan wilayah yang diperhitungkan di ASEAN, kita punya begitu banyak modalitas. Wilayah yang luas, penduduk dalam jumlah besar, sumber daya alam, keanekaragaman hayati, dan kebinekaan," kata Gita, dikutip Rabu, 23 Juni 2026.

"Yang diperlukan adalah keberanian menerobos batas, keberanian tampil sebagai bangsa beradab. Syaratnya, kita berani mengikuti jejak bangsa-bangsa yang kuat yang mengedepankan kekuatan moral, intelektual, etika, kapasitas kognisi, dan kemampuan membangun narasi," lanjutnya.

Dari modal yang melimpah itu, Gita menyoroti titik yang menurutnya justru kerap diabaikan, yakni cara bangsa memilih pemimpin. Obsesi pada angka survei, katanya, telah menggeser ukuran kepemimpinan dari hal yang semestinya menentukan, hingga ia mendesak reorientasi menyeluruh.

"Kepemimpinan mendatang haruslah ditata ulang. Kita tidak boleh mabuk pada elektabilitas dan popularitas, tetapi harus bergeser orientasi untuk melihat integritas, kapabilitas, dan etikabilitas," tegasnya.

Ia menawarkan satu jalan keluar konkret dari apa yang ia sebut jebakan sensasionalitas, yakni membenahi pendidikan dimulai dari nasib guru.

"Salah satu cara keluar dari jebakan sensasionalitas dewasa ini adalah dengan investasi secara agresif untuk memperbaiki mutu pendidikan kita. Gaji guru harus diperbaiki secara revolusioner. Tempatkan profesi guru sebagai profesi yang sangat dihargai, agar putra-putri bangsa terbaik masuk berbondong-bondong berebut menjadi guru," ujarnya.

"Pandangan kita harus kita arahkan jauh ke depan, jangan terperangkap pada sensasi terus-menerus," tambahnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pembenahan pendidikan itu, bagi Gita, bermuara pada generasi muda yang ia tempatkan sebagai penentu arah kawasan. Anak muda, katanya, tidak cukup menjadi pengguna teknologi, tetapi harus menjadi pencipta inovasi.

"Generasi muda harus memiliki keberanian untuk berpikir lintas batas. Mereka harus siap menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton perubahan," tegasnya.

Halaman Selanjutnya

Sementara, Rektor UHN Sudirman Said menilai persoalan bangsa ini bukan terletak pada kelangkaan modal, melainkan pada minimnya keberanian berpikir besar dan kejujuran menilai kepemimpinan sendiri.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |