Emiten Pengelola KFC Tekor Rp369 Miliar di 2025, Manajemen Siapkan Strategi Pemulihan

5 days ago 3

Senin, 20 April 2026 - 16:30 WIB

Jakarta, VIVA - Emiten yang mengelolq gerai restoran cepat saji KFC di Indonesia, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), mencatat rugi bersih sebesar Rp 369,24 miliar sepanjang tahun 2025. Perseroan memangkas hampir setengah kerugian yang pada tahun sebelumnya senilai Rp 798,24 miliar. 

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang telah diaudit, tekanan keuangan perseroan terlihat pada tingkat operasional. Beban penjualan dan distribusi tercatat mencapai Rp 2,60 triliun serta beban umum dan administrasi sebesar Rp 665,3 miliar. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kedua beban ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan begitu, rugi usaha ikut membaik dari Rp 784 miliar di tahun 2024 menjadi Rp 311,55 miliar pada tahun 2025. 

"Grup melaporkan rugi konsolidasian untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2025 sebesar Rp 369 miliar dan akumulasi kerugian konsolidasian sebesar Rp 507 miliar pada tanggal tersebut," ungkap Manajemen Perseroan dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 20 April 2026. 

Ilustrasi Laporan Keuangan

Meski demikian, pendapatan perseroan tumbuh tipis sekitar Rp 0,20 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp 4,88 triliun pada tahun 2025 dari Rp 4,87 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan pendapatan sejalan penyusutan beban pokok penjualan dari Rp 2,03 triliun menjadi Rp 1,99 triliun.

Manajemen Perseroan juga melaporkan kenaikan total aset mencapai 40 persen secara yoy menjadi Rp 4,94 triliun dari Rp 3,52 pada tahun 2024. Sementara itu, total liabilitas perseroan ikut naik signifikan sekitar 32,68 persen menjadi Rp 4,51 triliun dari Rp 3,40 triliun. 

"Manajemen terus secara aktif mengelola likuiditas Grup dan tetap yakin atas kemampuan Grup untuk memenuhi kewajiban keuangannya pada saat jatuh tempo,” kata Manajemen Perseroan. 

Lebih lanjut, Manajemen FAST menyampaikan penyebab kerugian sehubung tantangan makroekonomi global sebagai akibat dari ketegangan konflik Timur Tengah serta lesunya daya beli konsumen di Tanah Air. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Manajemen telah mengevaluasi faktor-faktor terkait kondisi Grup pada saat ini dan tetap yakin bahwa Grup memiliki kemampuan untuk melanjutkan operasinya serta memenuhi kewajibannya dalam kegiatan usaha normal," imbuh Manajemen Perseroan.

Untuk menghadapai tantangan tersebut, perseroan akan melakukan berbagai langkah proaktif dan inisiatif strategis. Salah satunya mmemperkuat kinerja bisnis inti dan daya saing pasar dengan memanfaatkan brand equity, optimalisasi product mix melalui peningkatan menu inti, serta menerapkan strategi harga dan bundling yang disiplin untuk meningkatkan nilai transaksi rata-rata dan marjin.

Halaman Selanjutnya

Perseroan akan memperkuat disiplin pengendalikan biaya dengan melakukan efisiensi pada promosi, kemasan, pengelolaan pemasok, serta mengurangi ketergantungan terhadap penjualan  didorong oleh program diskon. Langkah lain yang diambil perseroan adalah memperkuat pengelolaan likuiditas dengan memprioritaskan arus kas keluar untuk kebutuhan operasional yang penting.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |