Epilepsi Bukan Masalah Kejiwaan, Melainkan Gangguan Sistem Saraf

6 days ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Ada banyak mitos terkait epilepsi, mulai dari menyebut sebagai penyakit menular hingga gangguan kejiwaan. Faktanya epilepsi adalah gangguan sistem saraf karena ada lonjakan sinyal listrik yang tidak normal dan berulang.

“Epilepsi juga bukan gangguan kejiwaan," kata dokter spesialis bedah saraf Wienorman Gunawan dari Bethsaida Hospital Gading.

Wienorman menjelaskan epilepsi adalah kondisi medis yang berhubungan langsung dengan fungsi otak.

“Otak manusia bekerja menggunakan sinyal listrik. Pada pasien epilepsi, terjadi lonjakan sinyal listrik yang tidak normal dan berulang, sehingga memicu kejang atau gangguan kesadaran,”kata Wienorman dalam keterangan tertulis.

Mengenai alasan penyebab seseorang mengalami epilepsi, Wienorman mengatakan ada berbagai faktor. Mulai dari riwayat cedera kepala, gangguan bawaan, infeksi otak, stroke, tumor otak, atau gangguan struktur otak lainnya.

Namun, pada sebagian pasien penyebab epilepsi tidak selalu dapat ditemukan secara pasti.

Gejala Epilepsi, Tidak Selalu Kejang Hebat

Banyak orang awam beranggapan gejala epilepsi adalah kejang hebat. Namun, Wienorman mengatakan tidak semua epilepsi bergejala seperti itu.

Pada beberapa orang, epilepsi dapat muncul sebagai tatapan kosong tiba-tiba, melamun sesaat, gerakan kecil berulang, atau kehilangan kesadaran singkat. Mengingat gejala beragam, epilepsi sering kali tidak disadari sejak awal.

Maka dari itu Wienorman mengingatkan bila ada seseorang mengalami 'blank' lalu kejang tanpa demam sebaiknya segera diperiksa.

“Jika muncul episode 'blank' yang sering atau kejang tanpa demam, jangan abai. Itu adalah cara otak memberi sinyal bahwa ada yang perlu diperiksa,” ujar dokter yang praktik di Klinik Saraf dan Bedah Saraf Bethsaida Hospital Gading Serpong itu.

Penanganan Pertama Saat Epilepsi

Saat menyaksikan anggota keluarga atau orang yang mengalami kejang epilepsi, langkah pertama adalah tetap tenang. Lalu lakukan hal lain seperti :

  1. Posisikan pasien miring ke samping untuk menjaga jalan nafas tetap terbuka.
  2. Singkirkan benda-benda keras atau tajam di sekitar pasien.
  3. Longgarkan pakaian di sekitar leher.
  4. Catat durasi kejang bila memungkinkan

Hindari untuk memasukkan benda apapun, termasuk sendok, ke dalam mulut pasien. Hindari juga atau menahan gerakan kejang secara paksa seperti pesan dokter lulusan Universitas Padjadjaran, Bandung ini.

Setelah kejang berhenti, biarkan pasien beristirahat hingga kesadaran pulih. Penanganan epielepsi, kata Wienorman, bukan hanya soal memberi obat anti-kejang, tapi memastikan pasien bisa memegang kendali atas diri.

Oleh karena itu, pasien perlu mendapatkan penanganan epilepsi secara terintegrasi di fasilitas kesehatan dengan dukungan diagnostik yang lengkap serta pendekatan multidisiplin seperti disampaikan Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Pitono.

"Hal ini untuk memastikan setiap pasien epilepsi mendapatkan penanganan yang tepat, aman, dan berorientasi pada kualitas hidup,” tambah Pitono.

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |