Jakarta, VIVA –
Keberanian Bripda Nopandri Ramadhana saat menjalankan tugas memberantas peredaran narkoba kini menjadi perhatian masyarakat. Polisi muda berusia 23 tahun itu gugur ketika mengikuti operasi penggerebekan bandar sabu di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Nama Bripda Nopandri mulai ramai diperbincangkan setelah dirinya dilaporkan hilang usai operasi yang berlangsung di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah. Setelah pencarian selama dua hari, jasadnya akhirnya ditemukan mengapung di Sungai Katingan pada Sabtu, 4 Juli 2026. Berikut sejumlah fakta penting di balik gugurnya anggota Satresnarkoba Polres Katingan tersebut.
1. Polisi Muda Putra Asli Katingan
Bripda Nopandri Ramadhana merupakan putra daerah Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Rekan-rekan dan masyarakat mengenalnya sebagai sosok yang ramah, rendah hati, serta memiliki tekad kuat untuk mengabdikan diri kepada negara.
Kariernya di Kepolisian dimulai pada Juli 2022 setelah resmi menjadi anggota Polda Kalimantan Tengah. Ia mengawali penugasan di Direktorat Samapta sebelum kemudian dipindahkan ke Polres Katingan sebagai personel Satsamapta.
Kemampuan dan dedikasinya membuat pimpinan mempercayainya bergabung dengan Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Katingan pada 12 Januari 2024. Selama bertugas, ia juga mengikuti pelatihan peningkatan kemampuan penyidik reserse narkoba sebagai bekal menghadapi berbagai operasi penegakan hukum.
2. Berawal dari Informasi Warga
Operasi yang berujung tragedi itu bermula dari laporan masyarakat mengenai dugaan aktivitas peredaran sabu di Desa Tumbang Kalemei.
Hasil penyelidikan polisi mengarah kepada seorang target operasi berinisial BIO yang diketahui merupakan residivis kasus narkotika. Berdasarkan informasi tersebut, Satresnarkoba Polres Katingan menerjunkan 12 personel untuk melakukan penggerebekan pada Rabu dini hari, 1 Juli 2026.
Tim kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok bertugas menangkap target utama, sedangkan kelompok lainnya bersiaga sebagai tim pendukung apabila situasi berkembang di lapangan.
3. Penggerebekan Berubah Menjadi Penyerangan
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pada awalnya operasi berlangsung sesuai rencana. Polisi berhasil mengamankan target operasi. Namun keadaan berubah drastis ketika sejumlah orang yang berada di lokasi bersama warga sekitar melakukan perlawanan terhadap petugas.
Menurut keterangan kepolisian, massa menyerang menggunakan senjata tajam seperti parang. Situasi semakin memburuk setelah jumlah penyerang bertambah dan sebagian di antaranya diduga membawa senjata api rakitan.
Halaman Selanjutnya
Serangan tersebut membuat personel kepolisian harus menyelamatkan diri sambil meminta bantuan tambahan. Beberapa anggota bahkan terpaksa berenang menyeberangi Sungai Katingan dan berlindung di kawasan hutan demi menghindari amukan massa.

1 week ago
7











