VIVA – Nama Sayuti Melik kembali menjadi perbincangan publik setelah kabar mengenai putranya, Heru Baskoro (84), yang menjalani masa tua di sebuah rumah kontrakan sederhana di Rawalumbu, Kota Bekasi, mencuat. Kondisi tersebut membuat banyak orang kembali mengingat sosok Sayuti Melik, salah satu tokoh penting yang memiliki peran besar dalam lahirnya Naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Di balik jasanya sebagai pengetik naskah Proklamasi, Sayuti Melik ternyata memiliki perjalanan hidup yang penuh perjuangan. Berikut sejumlah fakta menarik tentang Sayuti Melik yang patut diketahui, seperti dirangkum dari berbagai sumber.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Bernama Asli Mohammad Ibnu Sayuti
Sayuti Melik lahir dengan nama Mohammad Ibnu Sayuti di Kadisobo, Rejodani, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 25 November 1908. Ia merupakan putra Abdul Muin atau Partoprawiro dan Sumilah.
Sejak kecil, Sayuti tumbuh di lingkungan keluarga yang memiliki semangat nasionalisme tinggi. Sang ayah dikenal sebagai seorang lurah yang berani mengkritik kebijakan pemerintah kolonial Hindia Belanda karena dianggap menyengsarakan masyarakat.
Gemar Membaca dan Aktif dalam Pergerakan Nasional Sejak Muda
Pendidikan Sayuti Melik dimulai di Sekolah Ongko Loro di Desa Srowolan sebelum melanjutkan pendidikan ke sekolah guru di Solo.
Selama masa muda, ia dikenal memiliki minat besar terhadap dunia literasi. Sayuti gemar membaca buku, surat kabar, serta mengikuti berbagai diskusi kebangsaan. Pemikirannya juga dipengaruhi oleh tokoh-tokoh seperti KH Ahmad Dahlan dan Haji Mohammad Misbach yang aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Keterlibatannya dalam berbagai aktivitas politik membuat Sayuti beberapa kali berurusan dengan pemerintah kolonial Belanda. Ia bahkan sempat ditangkap karena diduga terlibat dalam gerakan politik bawah tanah.
Pengetik Naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Salah satu peran paling bersejarah Sayuti Melik terjadi pada malam menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Saat itu, ia berada di rumah Laksamana Tadashi Maeda bersama sejumlah tokoh pergerakan sebagai perwakilan golongan muda. Setelah Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo menyusun konsep naskah Proklamasi, Sayuti Melik dipercaya untuk mengetik dokumen bersejarah tersebut menggunakan mesin tik.
Naskah hasil ketikannya kemudian dibacakan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, pada 17 Agustus 1945.
Halaman Selanjutnya
Mengoreksi Isi Naskah Proklamasi

3 hours ago
1











