Jakarta, VIVA – Harga Bitcoin terkoreksi tajam dan memicu kekhawatiran para investor kripto global. Aset kripto terbesar di dunia ini anjlok lebih dari 5 persen pada perdagangan Selasa, 24 Februari 2026.
Penurunan signifikan ini menyebabkan Bitcoin terjun menyentuh level US$62.964,64 atau sekitar Rp 1,05 miliar (estimasi kurs Rp 16.820 per dolar AS) per keping. Sebelumnya, aset emas digital berhasil memangkas sebagian kerugian dengan rebound ke posisi US$63.290.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Bitcoin lahir dari teknologi Blockchain.
Photo :
- REUTERS/Dado Ruvic
Anjloknya harga Bitcoin terjadi ketika investor mulai menjauh dari aset berisiko di tengah meningkatnya ketegangan tarif impor dan risiko geopolitik global. Alhasil, menyebabkan tekanan jual seiring perubahan sentimen investor yang semakin berhati-hati menghadapi ketidakpastian ekonomi dan konflik internasional.
Kepala Solusi Investasi Klien Asia Pasifik di Invesco, Christopher Hamilton, menilai penurunan Bitcoin bukan disebabkan oleh masalah internal kripto. Ia menegaskan koreksi ini lebih mencerminkan perubahan sentimen risiko secara global.
“Pergerakan turun Bitcoin terlihat bukan seperti guncangan khusus kripto, melainkan lebih seperti reset klasik sentimen risiko,” ujar Hamilton dikutip dari CNBC Internasional pada Rabu, 25 Februari 2026.
Ia menambahkan, pelemahan kali ini kemungkinan bagian dari fase penyesuaian (konsolidasi) yang dilakukan investor dalam jangka pendek. Lagi-lagi, Hamilyon menekankan anjloknya Bitcoin bukan tanda keluarnya investor secara permanen dari pasar kripto.
“Penurunan ini kemungkinan mencerminkan ‘de-risking taktis’, bukan eksodus struktural,” katanya.
Tekanan terhadap Bitcoin mulai terlihat setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan akan segera memutuskan kemungkinan serangan terhadap Iran dalam waktu dekat. Selambat-lambatnya 10 hari ke depan kemudian melancarkan serangan di tengah penolakan terhadap perjanjian nuklir baru.
Ketegangan semakin meningkat setelah Washington mengerahkan kekuatan militer ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas global.
Sejak mencapai puncaknya di atas US$125.000 pada Oktober tahun lalu, Bitcoin telah mengalami tekanan jual yang konsisten.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Nilai Bitcoin tercatat telah turun 27 persen sepanjang tahun 2026. Sementara secara year to date (ytd), aset kripto ini kehilangan sekitar 50 persen dari level tertingginya.
Investment strategist di Global X Australia, Billy Leung, mewanti-wanti para investor bahwa Bitcoin masih sangat sensitif terhadap kondisi likuiditas global dan kebijakan ekonomi. Ia memprediksi Bitcoin jadi aset investasi yang paling pertama merasa dampak ketegangan global.
Halaman Selanjutnya
“Jika pasar menafsirkan kebijakan perdagangan memperketat kondisi keuangan, maka kripto akan merasakan dampaknya lebih dulu,” ujar Leung.

2 weeks ago
6











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)
