Goldman Sachs Prediksi Persediaan Cadangan Minyak Global Tersisa 101 Hari

1 week ago 4

Selasa, 5 Mei 2026 - 15:00 WIB

Jakarta, VIVA – Selain harga yang masih tinggi, persediaan minyak global turut menjadi sorotan sejak meletusnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran. Goldman Sachs memperkirakan cadangan minyak hanya cukup sekitar tiga bulan ke depan imbas gangguan distribusi di Selat Hormuz.

Dalam laporan terbarunya, bank investasi mengakalkulasi total stok minyak dunia, baik minyak mentah maupun produk olahan, sekitar 101 hari. Jumlah ini diperkirakan bisa menyusut menjadi hanya 98 hari permintaan pada akhir Mei 2026. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mengutip CNBC Internasioanal, Goldman Sachs, cadangan minyak global tersebut belum mencapai level kritis tetapi laju penurunan stok yang cepat serta distribusi yang tidak merata meningkatkan risiko kelangkaan di sejumlah kawasan. Cadangan produk olahan yang mudah diakses dilaporkan terus menyusut, terutama untuk bahan baku petrokimia seperti nafta dan LPG, serta bahan bakar jet.

Lebih lanjut, lembaga keuangan yang berbasis di Amerika Serikat ini menyoroti potensi kekurangan produk energi di sejumlah negara akibat pembatasan ekspor yang menghambat distribusi pasokan. Negara-negara tersebut antara lain  Afrika Selatan, India, Thailand, dan Taiwan.

Ilustrasi minyak mentah.

Photo :

  • CNBC Internasional

Senada dengan itu, CEO Chevron, Mike Wirth, menyampaikan kekhawatiran terhadap kelangkaan bahan bakar semakin nyata, terutama jika gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut. Ia mengingatkan krisis energi akan terjadi dalam waktu dekat dan berdampak ke seluruh sektor. 

“Saya pikir ketika orang melihat realitas pasokan yang sangat ketat, ini bukan hanya soal harga. Pertanyaannya adalah, apakah kita bisa mendapatkan bahan bakarnya? Dalam beberapa minggu ke depan, dampaknya akan mulai terasa di seluruh sistem," kata Wirth.

Harga minyak dunia terkoreksi tipis setelah sempat melonjak tajam pada sesi sebelumnya. Kontrak Brent crude untuk pengiriman Juli turun 1,26 persen menjadi US$113 per barel. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) melemah 2,12 persen ke level US$104,16 per barel. Sebelumnya, kedua acuan tersebut masing-masing sempat melonjak 6 persen dan 4 persen.

Ketegangan AS dan Iran masih membayangi harga minyak dunia. Terbaru, gencatan senjata berada di ambang kegagalan setelah Uni Emirat Arab diserang drone dan rudal Iran. 

Halaman Selanjutnya

Kondisi ini menegaskan bahwa pasar energi global masih berada dalam tekanan tinggi. Konflik geopolitik dan penurunan cadangan berpotensi memicu volatilitas harga serta risiko krisis pasokan dalam waktu dekat.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |