Jakarta, VIVA - Iran mengerahkan armada nyamuk yang membuat Amerika Serikat (AS) keteteran. Hal itu langsung dibantah Donald Trump.
Presiden AS mengklaim 'telah sepenuhnya menghancurkan' Angkatan Laut Iran dan hanya menyisakan 'perahu-perahu kecil dengan senapan mesin di atasnya'.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Perahu-perahu kecil ini — yang dijuluki armada nyamuk oleh sebagian analis negara-negara Barat — memiliki daya sengat. "Apa yang dilakukan Iran sebagai perang gerilya maritim," ungkap Saeid Golkar, profesor madya di University of Tennessee di Chattanooga dan penasihat senior di United Against Nuclear Iran (UANI).
Sebab, Angkatan Laut AS mampu menghancurkan perahu cepat Iran di perairan terbuka, maka Pasukan Garda Revolusi Iran atau IRGC berhati-hati untuk menghindari pertempuran terbuka.
"IRGC berusaha menghindari konfrontasi langsung dan sebaliknya menggunakan taktik serang-lari, pengerubungan, ranjau, drone, rudal, dan perahu kecil untuk meningkatkan biaya operasi AS dan komersial," kata Golkar lagi, seperti dikutip dari situs BBC, Selasa, 19 Mei 2026.
Iran dapat mengganti perahu yang hilang dengan cepat dan murah. Sementara AS dan sekutunya justru sebaliknya, harus mengerahkan kapal dan pesawat mahal untuk melindungi lalu lintas komersial.
Alih-alih menghancurkan kapal, menciptakan persepsi bahaya serius saja dapat meningkatkan biaya asuransi dan mendorong perusahaan menghindari rute tersebut, menurut Golkar, seraya mempertegas.
Bahkan, ancaman ranjau laut pun dapat memperlambat atau menghentikan lalu lintas maritim. Sebab, pembersihan perairan yang dipasangi ranjau adalah proses yang lambat.
Apakah strategi Iran berhasil? Kapal-kapal yang berlayar melalui Selat Hormuz telah turun drastis jika dibandingkan dengan lalu lintas maritim di kawasan itu sebelum perang.
Platform pemantauan Hormuz Strait Monitor menunjukkan sekitar 10 kapal melintas per hari melalui jalur tersebut—atau sekitar 8% dari rata-rata harian sebanyak 60 kapal sebelum perang.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Secara keseluruhan, lalu lintas maritim saat ini lebih dari 90 persen di bawah tingkat sebelum perang, menurut tim Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang memantau wilayah tersebut.
Ada peningkatan singkat dalam aktivitas ketika AS, Israel, dan Iran menyepakati gencatan senjata pada 8 April 2026. Namun, beberapa hari kemudian, situasi berubah ketika AS memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang keluar dan masuk Iran.
Halaman Selanjutnya
Serangan di selat tersebut masih terus terjadi. Pekan lalu, Pusat Operasi Perdagangan Maritim UK (UKMTO), yang memantau rute pelayaran internasional, mengatakan sebuah kapal kargo "terkena proyektil yang tidak diketahui" sekitar 23 mil laut (43 km) timur laut Doha di Qatar.

3 weeks ago
10















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6284541/original/079194300_1779159392-unnamed__42_.jpg)