VIVA - Pengadilan Kasasi Rusia menguatkan putusan yang mewajibkan Google Irlandia mengembalikan dana sebesar 160,3 miliar Rubel (Rp27,2 triliun) kepada Google LLC, entitas hukum Google di Rusia.
Langkah hukum ini diambil untuk memulihkan aset anak perusahaan yang telah dinyatakan bangkrut, guna melunasi kewajiban kepada para krediturnya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pengadilan Arbitrase Distrik Moskow menolak total banding kasasi yang diajukan Google Ireland Limited dan Google International LLC. Putusan pengadilan tingkat pertama kini resmi berstatus hukum tetap, seperti dikutip dari Ria Novosti, Senin, 31 Agustus 2026.
Kasus ini bermula ketika Google LLC Rusia menuntut pengembalian dana yang dialirkan ke perusahaan induknya di Irlandia sepanjang 2018 hingga 2022.
Pengadilan membatalkan seluruh perjanjian pengalihan tersebut setelah menilainya ilegal. Google Irlandia diwajibkan mengembalikan dana pokok senilai 101,7 miliar Rubel (Rp17,2 triliun) ditambah bunga 58,6 miliar Rubel (Rp10 triliun).
Meski Google masih bisa mengajukan banding ke Mahkamah Agung Rusia, para ahli hukum menilai hasilnya tak akan jauh berbeda. Tantangan utamanya kini terletak pada eksekusi putusan di luar negeri, khususnya di wilayah Uni Eropa.
Ekaterina Orlova, Kepala Praktik Hukum Grace Consulting, menjelaskan bahwa sanksi dan regulasi Eropa berpotensi menghambat penegakan hukum ini di Irlandia. Kendati demikian, eksekusi di negara non-Eropa menunjukkan tren positif.
Pada 2025, Mahkamah Agung Banding Afrika Selatan menguatkan putusan pengadilan Rusia terkait penyitaan aset Google International senilai 10 miliar Rubel (Rp1,7 triliun) atas pembayaran dividen pra-kebangkrutan.
Sambil menunggu proses banding usai, kurator kepailitan telah bergerak agresif memburu aset Google di berbagai yurisdiksi. Pada Juni lalu, aset Google Belgia senilai 115 juta Euro (Rp2,37 triliun) resmi disita atas tuntutan anak perusahaan Rusia tersebut.
Langkah serupa sebelumnya sukses diterapkan di Prancis dan Afrika Selatan guna mencegah restrukturisasi entitas Google.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Senior Associate GSL Law & Consulting, Andrey Suvorov, menilai gelombang pembekuan aset ini menjadi beban operasional dan finansial yang sangat berat bagi Google secara global.
Selain merusak stabilitas bisnis, pengeluaran untuk biaya hukum di berbagai negara kian membengkak. Putusan kasasi ini secara signifikan memperkuat posisi para kreditur, sekaligus menetapkan "tarif mahal" yang wajib dibayar jika raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS) tersebut berniat kembali beroperasi di Rusia.
7.000 Tentara Asing Bayaran dari 70 Negara Disebut Gabung Ukraina Perang Lawan Rusia
Sebanyak 7.000 tentara bayaran asing dari 70 negara, sebagian besarnya dari Kolombia dan Polandia, didapati ikut berperang di pihak Ukraina melawan Rusia
VIVA.co.id
30 Agustus 2026

2 hours ago
1














