Iran, VIVA – Harga minyak dunia kembali melonjak pada perdagangan Selasa, 14 Juli 2026. Kenaikan dipicu meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di kawasan Selat Hormuz yang memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi global.
Kontrak minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) sama-sama mencatat kenaikan tajam hingga menyentuh level tertinggi dalam empat pekan terakhir. Pasar merespons eskalasi terbaru setelah Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran, sementara kedua negara terus meningkatkan aksi militer di kawasan Selat Hormuz.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pada pukul 03.30 GMT, harga minyak mentah Brent naik US$1,50 atau sekitar 1,8 persen menjadi US$84,80 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,70 atau sekitar 2,2 persen ke level US$79,84 per barel.
Sebelumnya, kedua kontrak sempat melonjak lebih dari US$2 per barel sebelum memangkas sebagian kenaikannya. Pada perdagangan sehari sebelumnya, Brent bahkan melesat hingga 9,6 persen, menjadi kenaikan harian terbesar sejak Mei 2020.
Kenaikan tersebut sekaligus membawa harga minyak ke level tertinggi sejak Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri perang pada 17 Juni lalu.
Eskalasi Konflik AS-Iran Dorong Premi Risiko Pasar
Lonjakan harga minyak terjadi setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam ketiga berturut-turut pada Senin, 13 Juli 2026.
Di saat yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran. Ia juga mengusulkan penerapan biaya pengamanan sebesar 20 persen bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan perkembangan terbaru tersebut kembali meningkatkan premi risiko di pasar energi.
Menurutnya, keputusan Amerika Serikat mengaktifkan kembali blokade terhadap Iran, ditambah respons dari Teheran, membuat ketidakpastian pasokan minyak semakin tinggi.
"Meski penutupan penuh Selat Hormuz belum terjadi, kepentingan kedua pihak yang saling bertentangan membuat prospek pasokan minyak menjadi sangat tidak pasti," ujarnya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Serangan di Selat Hormuz Perburuk Kekhawatiran Pasokan
Ketegangan di kawasan juga semakin meningkat setelah dua kapal tanker milik Uni Emirat Arab dilaporkan menjadi sasaran dua rudal jelajah Iran di jalur selatan Selat Hormuz yang berada di perairan Oman.
Halaman Selanjutnya
Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab menyatakan serangan tersebut menewaskan satu awak kapal berkewarganegaraan India dan melukai delapan orang lainnya.

1 day ago
1











