Harga Minyak Naik usai Serangan Drone di UEA, Brent Nyaris Rp2 Juta per Barel

3 weeks ago 12

Senin, 18 Mei 2026 - 13:30 WIB

Jakarta, VIVA Harga minyak dunia melonjak pada awal perdagangan Asia, Senin 18 Mei 2026, setelah serangan drone terjadi di Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi. Konflik yang terus memanas di Timur Tengah membuat pasar khawatir terhadap gangguan pasokan minyak global.

Mengutip Oil Price, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak terdepan naik 2,59 persen ke level US$108,20 per barel atau sekitar Rp1,91 juta per barel. Sementara itu, minyak Brent naik 2,03 persen menjadi US$111,50 per barel atau setara Rp1,97 juta per barel, dengan asumsi kurs Rp17.678.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kenaikan harga minyak juga dipicu belum adanya terobosan terkait Iran saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan kunjungan ke China pekan lalu. Kondisi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap potensi kelangkaan pasokan minyak dunia.

Serangan drone terbaru dilaporkan menyebabkan kebakaran di dekat pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah di UEA. Kementerian pertahanan UEA mengatakan dua drone lainnya berhasil dihancurkan.

Di sisi lain, Arab Saudi menyebut pihaknya mencegat tiga drone yang masuk ke wilayah udaranya dari Irak. Pejabat UEA menyatakan, serangan di Barakah mengenai generator listrik di luar area utama fasilitas nuklir. Mereka memastikan tidak ada kebocoran radiasi maupun korban luka.

Serangan tersebut menjadi bagian dari meningkatnya ketegangan di kawasan setelah Presiden Trump meluncurkan “Project Freedom” atau upaya terbaru untuk membuka kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz.

Sebelumnya, pasar sempat berharap kunjungan Trump ke China dapat menghasilkan kesepakatan baru terkait Iran. Namun, tidak adanya perkembangan membuat kekhawatiran pasar kembali meningkat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada akhir pekan lalu, Trump juga kembali mengancam Iran agar segera bernegosiasi atau menghadapi konsekuensi lebih lanjut. Di tengah kondisi tersebut, pasar minyak global disebut semakin ketat. Hampir 80 negara kini menerapkan langkah darurat untuk melindungi ekonomi mereka dari ancaman krisis energi.

Ekonom Aberdeen bahkan sedang mengkaji skenario harga minyak Brent melonjak hingga US$180 per barel atau sekitar Rp3,18 juta per barel jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung lama. Sementara itu, International Energy Agency (IEA) memperkirakan akan terjadi kesenjangan 6 juta barel per hari dari Maret hingga Juni antara pasokan dan permintaan minyak global.

Halaman Selanjutnya

JPMorgan memperingatkan stok minyak negara-negara OECD bisa mendekati “tingkat tekanan operasional” pada awal Juni. Kondisi ini dinilai dapat memicu lonjakan harga yang lebih ekstrem dan risiko kelangkaan minyak fisik.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |