Jakarta, VIVA – Di saat banyak produsen otomotif mulai mengurangi bahkan menghentikan pengembangan mobil bermesin pembakaran internal, PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) justru menegaskan bahwa kendaraan berbahan bakar bensin maupun diesel masih akan menjadi bagian penting dari strategi bisnisnya di Tanah Air.
Meski elektrifikasi terus menjadi arah industri otomotif global, Hyundai menilai kebutuhan konsumen Indonesia masih sangat beragam. Karena itu, perusahaan memilih menawarkan berbagai pilihan teknologi, mulai dari mesin bensin, diesel, hybrid, hingga mobil listrik murni.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Presiden Direktur PT HMID, Kenny Lee, mengatakan Hyundai tengah menyiapkan penambahan lini produk dalam beberapa tahun ke depan dengan komposisi yang lebih lengkap.
"Kita siapkan beragam powertrain dari ICE, hybrid dan bahkan EV," ujar Kenny dalam sesi tanya jawab bersama media di Jakarta.
Menurutnya, Hyundai melihat elektrifikasi sebagai masa depan industri otomotif Indonesia. Namun, hal itu bukan berarti kendaraan bermesin pembakaran internal atau Internal Combustion Engine (ICE) akan ditinggalkan begitu saja.
"Per 2030 kita akan punya lebih banyak line up ICE dari yang sekarang. Kita juga punya lebih banyak hybrid dan lebih banyak EV. Kita akan fokus ke hybrid dan EV untuk pilihan konsumen, tapi kita nggak akan meninggalkan ICE," katanya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjawab anggapan bahwa Hyundai hanya akan berfokus pada kendaraan listrik dalam beberapa tahun mendatang. Faktanya, pabrikan asal Korea Selatan itu justru menyiapkan strategi multi-powertrain agar konsumen bisa memilih teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.
Hal senada disampaikan Chief Operating Officer PT HMID, Fransiscus Soerjopranoto. Menurut dia, mesin diesel masih memiliki pasar tersendiri di Indonesia dan Hyundai belum memiliki rencana untuk menghentikan penjualannya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Kita enggak tinggalin diesel. Diesel atau combustion tetap dijaga oleh Hyundai, tetapi secara porsi hybrid akan menjadi sebagian besar dibandingkan komposisi gasoline ataupun diesel. Tidak ada statement dari Hyundai akan stop," ujar Fransiscus.
Pernyataan itu menjadi kabar menarik di tengah tren elektrifikasi yang semakin masif. Pasalnya, sejumlah produsen otomotif global mulai mengurangi bahkan menghentikan pengembangan mesin diesel demi memenuhi target emisi dan mempercepat transisi menuju kendaraan listrik.
Halaman Selanjutnya
Di Indonesia sendiri, mobil bermesin diesel masih memiliki basis konsumen yang cukup besar, terutama di segmen SUV ladder frame dan kendaraan niaga ringan. Karakter mesin diesel yang dikenal irit bahan bakar serta memiliki torsi besar masih menjadi daya tarik bagi sebagian masyarakat.

1 week ago
2











