Minggu, 30 Agustus 2026 - 15:32 WIB
Jakarta, VIVA – Pelaksana Tugas (Plt) Presiden Venezuela Delcy Rodriguez mengungkapkan perjanjian pengembangan minyak dengan Amerika Serikat yang telah disepakati. Melalui perjanjian itu, pendapatan negaranya dapat mencapai sekitar US$209 miliar (sekitar Rp3,7 kuadriliun) atau US$19 (sekitar Rp337 ribu) per barel yang diproduksi dan dijual.
Dia menjelaskan perhitungan itu didasarkan pada harga $65 (sekitar Rp1,1 juta) per barel, yang bisa lebih tinggi atau lebih rendah. Perjanjian tersebut mengatur pembayaran royalti dan pajak laba kepada negara. Secara khusus, untuk delapan blok baru yang akan dikembangkan di sabuk minyak Orinoco, royalti minimumnya akan sebesar 16 persen, sedangkan pajak labanya sebesar 34 persen.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Secara spesifik, ini berarti bahwa untuk setiap barel yang diproduksi dan dijual, sekitar $19 langsung masuk ke negara kami," kata Rodriguez dalam pidatonya, dikutip dari Sputnik, Minggu, 30 Agustus 2026.
Menurut Rodriguez, perjanjian bilateral dengan Amerika Serikat itu berlaku selama 25 tahun dan mengatur pengembangan 17 ladang strategis untuk meningkatkan produksi menjadi lebih dari 1,5 juta barel per hari.
Berdasarkan perjanjian tersebut, Venezuela menyediakan sumber daya minyak, basis industri, dan pengalaman di bidang industri yang telah terakumulasi selama lebih dari 100 tahun, sedangkan AS menyediakan modal dan teknologi untuk pemulihan dan pengembangan aset-aset tersebut.
"Sebagai imbalannya, Venezuela memperoleh hasil produksi, lapangan kerja, investasi infrastruktur, pendapatan yang signifikan bagi negara, serta rantai pasok untuk industri nasional," kata Rodriguez.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Tujuan Venezuela itu tidak hanya terbatas pada perjanjian tersebut, katanya, tetapi juga mencakup perjanjian penting lainnya dengan perusahaan-perusahaan besar. Venezuela berupaya menjadi kekuatan energi, produsen minyak utama, eksportir gas signifikan, serta mengembangkan industri petrokimia nasionalnya, ujarnya.
Venezuela tetap memegang kepemilikan dan kedaulatan atas sumber daya, sekaligus memanfaatkan modal, teknologi, dan kemampuan operasional untuk membangun kembali industri strategis yang sangat terdampak oleh sanks. (Ant)
Menlu Iran Beberkan Ada Upaya Pejabat AS Manipulasi Pasar Energi Demi Cuan Pribadi
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan intelijen negaranya mengindikasikan adanya upaya pejabat pemerintah Amerika Serikat untuk memanipulasi pasar energi
VIVA.co.id
30 Agustus 2026

3 weeks ago
13





















