Jakarta, VIVA – Presiden Prabowo tengah menjalankan 8 program unggulan sebagai strategi big push: besar, cepat, dan terkoordinasi untuk menyelesaikan masalah struktural bangsa. Karenanya, Presiden Prabowo dinilai harus melakukan evaluasi terhadap sejumlah kementerian yang mengurusi delapan program unggulan di kabinet pemerintahannya.
Bahkan, Ekonom Adidaya Institute, Bramastyo B. Prastowo menekankan, Presiden Prabowo tidak perlu ragu untuk me-reshuffle menteri terkait, apabila kinerjanya tidak mampu mendorong terjadinya manfaat ekonomi bagi masyarakat.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Karena itu, evaluasi dan reshuffle menteri harus berbasis kinerja yang bisa dicek publik," kata Bramastyo dalam keterangannya, Jumat, 27 Februari 2026.
"Siapa yang tidak mampu mengeksekusi, tidak transparan, dan tidak menghasilkan dampak nyata wajib diganti,” ujarnya.
Bram kembali menegaskan, strategi kebijakan Big Bang dan Big Push Presiden Prabowo tidak akan berhasil, jika kabinet pemerintahan diisi oleh para figur yang tidak memahami kerangka kerja dan tidak mampu mengeksekusi program tersebut.
Pasalnya, para pembantu Presiden tersebut harus berfungsi sebagai penopang strategi Big Bang-Big Push dan bukan justru menjadi penghambat. “Big Bang dan Big Push hanya berhasil jika kabinet diisi delivery leaders (Menteri Tukang Eksekusi) dan bukan sekadar komunikator,” kata Bram.
Meski tak menyebut nama-nama menteri yang dinilai tidak bekerja optimal dalam mendukung 8 program unggulan Presiden Prabowo, Bram meyakini Presiden Prabowo tentunya sangat memahami kementerian-kementerian mana saja yang belum optimal dalam menjalankan 8 program tersebut.
"Setidaknya semua Kementerian yang terkait dengan 8 program unggulan (terutama Mesin Ekonomi) wajib dievaluasi Presiden Prabowo. Kami menyerahkan sepenuhnya kepada hak prerogatif Presiden,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sebelumnya, hasil survei Adidaya Institute menyimpulkan, sebanyak 43 persen ahli menilai tiga program unggulan Prabowo-Gibran (Kampung Nelayan, KDKMP, dan 3 Juta Rumah) dapat menjadi mesin (engine) pertumbuhan ekonomi baru. Survei Ahli itu menyebut ketiga program itu dianggap mampu menciptakan produksi, menyerap tenaga kerja dan menggerakkan perputaran uang di daerah.
Survei Ahli yang dilakukan Adidaya Institute ini berlangsung pada Desember 2025 hingga Februari 2026 di 12 kota besar di Indonesia. Antara lain seperti di Medan, Bandar Lampung, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Samarinda, Banjarmasin, Makassar, Manado dan Ternate.
Halaman Selanjutnya
Survei melibatkan 72 responden ahli dengan latar belakang berbagai profesi antara lain akademisi (22 orang), legislatif (12 orang), birokrat (14 orang), pelaku usaha (13 orang), tenaga kesehatan (7 orang) dan aktivis (4 orang). Survei juga dilakukan dengan menggunakan metode analyctical networking process dan indepth interview beserta agenda focus group discussion (FGD).

6 hours ago
2










:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5488987/original/040536100_1769773426-Nobel.jpeg)





